Category Archives: Artikel

  • -

Semangat di Tahun 72 Indonesia Merdeka dan Bergerak Bersama Mewujudkan Generasi Melek Informasi… !!!

Category : Artikel

Teknologi dan informasi merupakan seperangkat kesatuan yang saling berhubungan khususnya di era sekarang ini yaitu abad informasi. Berbagai fenomena bermunculan dengan berbagai perkembangan dan dampak dari perkembangan teknologi informasi. Tak dapat dipungkiri bahwa salah satu implikasi yang tak terelakkan adalah munculnya suatu revolusi informasi yang kemudian melahirkan sebuah masyarakat dengan keadaan bahwa produksi, distribusi dan manipulasi informasi menjadi suatu kegiatan utama atau yang lebih dikenal dengan istilah masyarakat informasi.

Perpustakaan sebagai salah satu pusat sumber informasi memiliki berbagai tuntutan sejalan dengan perkembangan masyarakat informasi tersebut. Disisi lain pustakawan sebagai agen informasi didalamnya sebagai pemegang kunci bisakah perpustakaan mengatasi berbagai tuntutan tersebut. Salah satu wujud nyata adalah dengan mencoba membangun suatu pola pikir dan paradigma pengelolaan informasi dengan tidak mengesampingkan akan perkembangan-perkembangan teknologi yaitu dengan menerapkan teknologi-teknologi di perpustakaan baik itu untuk kemudahan dalam akses pengguna maupun kemudahan dalam proses pengelolaan.

Perlu diperhatikan aspek lain bahwa pustakawan disini bukan hanya sebagai pengelola unsur-unsur teknologi, data dan lain sebagainya. Namun jauh dari itu era masyarakat informasi ini pustakawan memiliki tugas moral sebagai agen informasi di mana pustakawan memiliki tanggung jawab bagaimana mereka dapat mencetak generasi-generasi era informasi ini dengan memiliki suatu kompetensi yaitu berupa melek informasi. Dengan semangat 45 periode 72 tahun Indonesia merdeka mari kita sebagai pustakawan agen informasi mulai membuka menset dan pola pikir bahwa kita bukan hanya terkpaku pada proses-proses teknis dalam dunia kepustakawanan, jauh dari itu mari kita bersama-sama mulai berusaha meningkatkan kompetensi generasi penerus menjadi generasi yang melek akan informasi. Hal ini dapat kita wujudkan dengan memberikan suatu pelatihan-pelatihan ketrampilan akses informasi kepada para penggua terhadap sumber yang relevan dengan kebutuhan mereka, merancang metode-metode baik berupa konsep ataupun produk yang diperuntukkan bagi pengguna sebagai kemudahan akses informasi, memberikan gagasan berupa rajin membuat karya tulis, penelitian dan sebagainya demi pengembangan keilmuan kepustakawanan khususnya yang berkaitan dengan bidang literasi informasi dan lain sebagainya. Jika semua itu dapat terwujud bukan tidak mungkin nantinya generasi penerus kedepannya akan lebih maju dan otomatis berdampak pada kemajuan negara Indonesia di mana mereka memiliki ide-ide kreatif dan selalu inovatif dengan kompetensi literasi informasi yang mereka miliki. (Niz)

 


  • -

Fenomena Cybercrime Sebagai Penyimpangan Gaya Hidup Generasi Virtual dan Peran Pustakawan

Category : Artikel

Kecanggihan teknologi informasi tak dapat dipungkiri bahwa perkembangannya semakin pesat seiring dengan perkembangan zaman. Salah satu implikasi yang tak terelakkan adalah munculnya suatu revolusi informasi yang kemudian melahirkan sebuah masyarakat informasi atau lebih dikenal dengan masyarakat virtual. Masyarakat virtual di sini merupakan suatu masyarakat yang dalam kehidupannya sangat familiar dengan teknologi informasi TI. Castells (2004: 3) mengemukakan bahwa fenomena yang terjadi tersebut yaitu tumbuh dan lahirnya masyarakat informasi sebagai awal akibat dari adanya suatu revolusi informasi dari kemajuan teknologi informasi tersebut juga telah membawa dampak pada perubahan ruang konvensional dalam interaksi menjadi ruang virtual dalam suatu masyarakat. Dalam kehidupannya masyarakat tidak canggung dengan penggunaan teknologi dalam membantu kehidupannya, bahkan dapat dikatakan mereka sangat bergantung akan teknologi tersebut.

Masayarakat era informasi atau masyarakat virtual ini sudah tidak asing dengan penggunaan teknologi-teknologi seperti iPad, handphone, internet dan perangkat TI yang lain. Dikalangan remaja atau generasi muda bahkan bukan hanya yang berada diperkotaan saja di daerah-daerahpun mereka kini telah mahir dan sangat familliar dengan saling berkirim SMS, chatting di dunia maya seperti melalui fasilitas facebook, twitter dan sebagainya. Aktivitas menelusur suatu informasi pun merupakan aktivitas keseharian yang semakin meluas dan berkembang. Menurut sumber dikemukakan bahwa Jumlah pengguna Internet di Indonesia tahun 2016 adalah 132,7 juta user atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta (http://isparmo.web.id/2016/11/21/data-statistik-pengguna-internet-indonesia-2016/).

Sugihartati (2010: 11) mengemukakan berbeda dengan sarana hiburan lain salah satunya televisi yang bersifat pasif, dapat dikatakan bahwa penggunaan teknologi informasi (TI) seperti internet cenderung lebih bersifat aktif dan partisipatif. Tanpa disadari secara langsung bahwa dampak dari penggunaan teknologi informasi seperti internet tersebut secara intensif ternyata juga membawa suatu dampak dalam konteks pembahasan ini yaitu lebih pada dampak sosial yang ditimbulkan. Seorang remaja yang membuka dan mendaftarkan diri dalam sebuah akun di media sosial misalkan saja facebook, jika kita pelajari dan teliti lebih lanjut dapat dikatakan bahwa mereka bukan saja berpeluang untuk berelancar didunia maya untuk berkomunikasi dan berjejaring tetapi juga menjalin sebuah ke intiman di dunia maya. Kebanyakan bahkan sebagian besar dari mereka tidak memperhitungkan resiko dan dampak yang timbul jika hubungan tersebut dilakukan secara langsung dan personal melalui dunia nyata.

Realita yang sudah sering terjadi khususnya dikalangan remaja yaitu pada waktu kegiatan belajar para remaja sudah merasa sangat jenuh apabila belajar sudah dalam hitungan satu, dua jam namun dalam berselancar didunia maya selama berjam-jam itu tak terasa bahkan sampai lupa waktu. Berdasar pada realita sebagaimana diketahui sering terekspose pada berbagai berita bahwa penggunaan TI secara berlebih selain dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk menipu dan menjaring remaja untuk dijadikan korban trafficking. Kecenderungan remaja untuk memanfaatkan TI dan berselancar didunia maya juga berdampak pada kontra produktif bagi kondisi ekonomi dan kegiatan belajar mereka. Bahkan dari segi psikologis keterlibatan remaja dalam penggunaan internet yang berlebihan juga ditenggarai sebagai pemicu timbulnya pengaruh negatif terutama ketika mereka memanfaatkan fasilitas internet untuk mengakses informasi yang kurang sesuai dengan usia mereka seperti mengakses situs-situs porno, bahkan yang begitu ramai dan menjadi tranding topik yaitu dengan melakukan tindak kejahatan cybercrime. Tindak kejahatan cybercrime ini banyak dilakukan oleh mereka bukan hanya karena  ingin melakukan tindak kejahatan saja, namun tindak kejahatan tersebut merupakan tindak kejahatan yang membutuhkan suatu keahlian akan kecanggihan teknologi informasi. Berbagai kalangan dapat melakukan tindak kejahatan tersebut, sebagaimana kasus peretasan situs jual beli tiket online PT Global Networking yang telah terjadi akhir-akhir ini. Kasus tersebut cukup membuat kita sedikit mengelus dada bahwa ternyata pelaku tersebut bukanlah orang dewasa melainkan adalah seorang anak SMP yang masih di bawah umur.

Perpustakaan sebagai pusat sumber informasi dan pustakawan sebagai patner pendidik dalam hal ini memiliki peran sentral. Pustakawan haruslah merubah pola paradigma bahwa tugas pokok bukan hanya sekedar mengolah koleksi ataupun pekerjaan-pekerjaan teknis yang setiap hari dilakukan. Jauh dari itu sebagai patner pendidik pustakawan sangat perlu khususnya dalam ruang lingkup pendidikan dengan memberikan sumbangsih berupa pelatihan serta memberikan nilai-nilai pendidikan karakter. Hal tersebut dapat dilakukan misalkan melalui pendidikan literasi khususnya literasi ICT pada kalangan remaja agar mereka tidak sampai melakukan penyalah gunaan kecanggihan teknologi seperti cybercrime. (Niz)

Daftar Pustaka

Castells, Manuel. The Network Society:a cross-cultural perspective Massachutsetts:Edwar Elgar Publishing, 2004.

Rahma Sugihartati. Masyarakat Informasi dan Nergeneration. Jakarta: Prenata Media, 2011.

Sugihartati, Rahma. “Generasi Virtual: Gaya Hidup dan Dampak Sosialnya”. Palimset:Jurnal Kajian Ilmu Informasi dan Perpustakaan, No.1 Th. 1. 2 Desember- Mei 2010.

 


  • 0

Selamat Hari Balita dan Anak-anak

Category : Artikel

Halo anak-anak  seluruh Indonesia!

Selamat Hari Balita dan Anak-anak!

Cikal muda, tunas pembaharu bangsa adalah aset yang harus kita jaga. Namun nasib balita dan anak-anak Indonesia masih perlu diperhatikan; busung lapar, berbagai penyakit lainnya hingga pendidikan kesehatan yg kurang adalah sekian dari banyaknya masalah yg harus kita selesaikan.

So, selamat tanggal 8! Yuk kita memperingati dengan menggagas dan upaya nyata!


  • 0

Si Unyil Pertama Kali Tayang di Televisi

Category : Artikel

 

Si Unyil  
Genre Anak-anak  
Format Wayang  
Pembuat Suyadi  
Negara Indonesia  
Bahasa Indonesia  
Produksi  
Durasi sekitar 30 menit  
Rumah produksi PPFN  
Siaran  
Stasiun televisi TVRI (1981-1993)
RCTI (2002-2003)
TPI (2003)
 
Siaran sejak 05 April 1981 – akhir 2003  
Kronologi  
Dilanjutkan oleh Laptop Si Unyil  

Si Unyil adalah film seri televisi Indonesia produksi PPFN yang mengudara setiap hari Minggu pagi di stasiun TVRI dimulai pada tanggal 5 April 1981 sampai 1993, Minggu pagi di stasiun RCTI dimulai pada tanggal 21 April 2002 hingga awal 2003 dan berpindah ke TPI pada medio 2003 hingga akhir 2003 setiap Minggu pukul 16.30 WIB sebelum program berita Lintas 5. Si Unyil ini diciptakan oleh Drs. Suyadi.

Sinopsis

Unyil dan Pak Raden

Ditujukan kepada anak-anak, film seri boneka ini menceritakan tentang seorang anak Sekolah Dasar (yang lalu akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya bisa mencapai posisi Sekolah Menengah Pertama) bernama Unyil dan petualangannya bersama teman-temannya. Kata “Unyil” berasal dari “mungil” yang berarti “kecil”.

Si Unyil telah menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari budaya populer di Indonesia, dan banyak orang tidak dapat melupakan berbagai unsur seri ini, mulai dari lagu temanya yang dimulai dengan kata-kata “Hom-pim-pah alaiyum gambreng!” sampai tokoh-tokoh seperti Pak Raden dan Pak Ogah dan kalimat seperti “Cepek dulu dong!”

Saat ini boneka-boneka si Unyil telah menjadi koleksi Museum Wayang di Jakarta.

Sekuel

Film ini pernah dicoba diangkat lagi oleh PPFN dengan bantuan Helmy Yahya pada tahun 2001, dengan meninggalkan atribut lama dan memakai atribut baru agar sesuai dengan zamannya, akan tetapi usaha itu gagal.

Pada tahun 2007, acara ini dihidupkan lagi dengan nama Laptop Si Unyil, digawangi oleh Trans7. Karakter, lagu pembuka, dan cerita tetap dipertahankan, kecuali beberapa yang diperbaharui seiring zaman. Seperti ucapan Pak Ogah, yang dulu “Cepek dulu dong” kini jadi “Gopek dulu dong”; dan Unyil didampingi temannya membahas hal-hal pendidikan dengan laptop yang dimiliki teman si Unyil.

Tokoh

Unyil, Ucrit, dan Usro

Ketiga karakter ini merupakan karakter utama dalam film Si Unyil

Pak Raden

ia memiliki karakter jawa yang kental. Kain beskap berwarna hitam lengkap dengan blangkon dan tongkat dengan pegangan mirip gagang payung dan disertai dengan kumis tebal yang melintang merupakan ciri khas Pak Raden. Segala sesuatu yang dikerjakan selalu mengacu pada primbon kesayangan nya. Selalu berusaha menghindar bila ada kerjabakti di desa Sukamaju dengan alasan penyakit encoknya kambuh.

Tokoh Pak Raden ini juga memiliki sifat yang pelit terhadap tetangganya, sehingga seringkali buah mangganya dicuri oleh Pak Ogah. Seperti halnya kebanyakan tokoh yang memiliki darah biru, Pak Raden juga memelihara burung perkutut serta memiliki bakat seni lukis yang mumpuni. Pak Raden juga mempunyai tawa khas yang menggelegar. Selain itu pula sifat jelek Pak Raden adalah cepat naik darah alias pemarah.

Pak Ogah

Ia dikenal sebagai seorang tunakarya yang kepalanya gundul dan kerjanya sehari-hari adalah duduk di pos ronda dan meminta uang dari orang-orang yang lewat.

Dua kalimat Pak Ogah yang paling terkenal adalah, “Ogah, aah” dan “Cepek dulu dong.” Ogah adalah bahasa sehari-hari untuk mengatakan “tidak”, biasanya karena kemalasan. Misalnya apabila seseorang diajak temannya untuk pergi ke suatu tempat, tetapi ia ingin tinggal di rumah, ia dapat berkata, “Ogah, aah.” Perlu diperhatikan bahwa kata “ogah” ini memiliki konotasi kurang sopan bila digunakan kepada orang yang lebih tua atau lebih tinggi status sosialnya.

“Cepek” sebenarnya berarti seratus, diserap dari dialek Hokkian dan dalam hal ini adalah satu keping uang logam seratus Rupiah. Pak Ogah dalam film seri biasanya hanya mengijinkan orang lewat di depan pos rondanya bila mereka memberinya seratus rupiah atau cepek terlebih dahulu.

Karena ketenaran seri Si Unyil, kata Pak Ogah kemudian memasuki wahana populer dan menjadi istilah umum untuk menyebut semua tunakarya yang lebih senang bermalas-malasan atau melakukan pekerjaan ringan. Misalnya di perempatan jalan yang sibuk, sering kali karena satu alasan atau yang lain tidak ada petugas polisi yang mengatur lalu-lintas, seseorang yang bukan petugas polisi namun kemudian mengatur arus kendaraan dan meminta uang sebagai imbalan sering disebut “Pak Ogah”.

Tokoh-tokoh lain

  • Kinoy Adik dari Unyil
  • Meilani Teman bermain Unyil dan kawan-kawannya. Meilaini melambangkan salah satu tokoh keturunan Tionghoa yang berasimilasi dalam masyrakat Indonesia.
  • Tina
  • Bun Bun Adik dari Meilani
  • Pak Ableh Teman Pak Ogah yang tinggal bersama di Pos Siskamling
  • Cuplis Teman bermain Unyil dan kawan-kawannya. Potongan rambutnya yang gundul membuatnya terlihat berbeda dengan teman-temannya
  • Pak Lurah dan Pak Hansip
  • Endut Teman bermain Unyil dan kawan-kawannya. Endut pada kesehariannya lebih dekat dan bermain dengan Cuplis akan tetapi selalu berseteru dengan Unyil dan kawan-kawan..
  • Mbok Bariah Tokoh Madura di kampung Unyil yang berjualan rujak.
  • Ayah dan Ibu Unyil
  • Bu Raden
  • Orang Gila
  • Bibi Cerewet
  • Jontor alias Joni Keponakan Bibi Cerewet yang bergaya ibukota lengkap dengan kacamata hitam dan walkman di telinganya
  • Tina alias Tineke Keponakan Pak Raden

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Si_Unyil


  • 0

Berdirinya Pakta Pertahanan Atlantik Utara

Category : Artikel

Pakta Pertahanan Atlantik Utara

Bendera Pakta Pertahanan Atlantik Utara

Negara-negara anggota NATO ditampilkan dengan warna biru.

Tanggal pembentukan 4 April 1949
Jenis Persekutuan Militer
Kantor pusat Brussels, Belgia
Jumlah anggota 28 negara
Bahasa resmi Inggris
Perancis
Sekretaris Jenderal Anders Fogh Rasmussen
Ketua Komisi Militer Giampaolo Di Paola
Situs web nato.int

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (bahasa Inggris: North Atlantic Treaty Organization atau NATO; bahasa Perancis: l’Organisation du Traité de l’Atlantique Nord atau OTAN) adalah sebuah organisasi internasional untuk keamanan bersama yang didirikan pada tahun 1949, sebagai bentuk dukungan terhadap Persetujuan Atlantik Utara yang ditanda tangani di Washington, DC pada 4 April 1949.

Pasal utama persetujuan tersebut adalah Pasal V, yang berisi:

Para anggota setuju bahwa sebuah serangan bersenjata terhadap salah satu atau lebih dari mereka di Eropa maupun di Amerika Utara akan dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota. Selanjutnya mereka setuju bahwa, jika serangan bersenjata seperti itu terjadi, setiap anggota, dalam menggunakan hak untuk mepertahankan diri secara pribadi maupun bersama-sama seperti yang tertuang dalam Pasal ke-51 dari Piagam PBB, akan membantu anggota yang diserang jika penggunaan kekuatan semacam itu, baik sendiri maupun bersama-sama, dirasakan perlu, termasuk penggunaan pasukan bersenjata, untuk mengembalikan dan menjaga keamanan wilayah Atlantik Utara.

Pasal ini diberlakukan agar jika sebuah anggota Pakta Warsawa melancarkan serangan terhadap para sekutu Eropa dari PBB, hal tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota (termasuk Amerika Serikat sendiri), yang mempunyai kekuatan militer terbesar dalam persekutuan tersebut dan dengan itu dapat memberikan aksi pembalasan yang paling besar. Tetapi kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan dari Eropa Barat ternyata tidak menjadi kenyataan. Pasal tersebut baru mulai digunakan untuk pertama kalinya dalam sejarah pada 12 September 2001, sebagai tindak balasan terhadap peristiwa serangan teroris 11 September 2001 terhadap AS yang terjadi sehari sebelumnya.

  • 1 Negara anggota
    • 1Anggota pendiri (1949)
    • 2Negara-negara yang bergabung pada masa Perang Dingin
    • 3Negara-negara mantan anggota Blok Timur yang bergabung setelah Perang Dingin

Negara anggota

Peta negara-negara anggota NATO.

Anggota pendiri (1949)

  •  Amerika Serikat
  •  Belanda
  •  Belgia
  •  Britania Raya
  •  Denmark
  •  Islandia
  •  Italia
  •  Kanada
  •  Luksemburg
  •  Norwegia
  •  Perancis
  •  Portugal

Perkembangan NATO di Eropa

Negara-negara yang bergabung pada masa Perang Dingin

  •  Yunani (1952)
  •  Turki (1952)
  • Jerman (1955 sebagai Jerman Barat)
  •  Spanyol (1982)

Negara-negara mantan anggota Blok Timur yang bergabung setelah Perang Dingin

  •  →   Jerman Timur (1990)
  •  Ceko (1999)
  •  Polandia (1999)
  •  Hungaria (1999)
  •  Bulgaria (2004)
  •  Estonia (2004)
  •  Latvia (2004)
  •  Lituania (2004)
  •  Rumania (2004)
  •  Slowakia (2004)
  •  Slovenia (2004)
  •  Albania (1 April 2009)
  •  Kroasia (1 April 2009)

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Pakta_Pertahanan_Atlantik_Utara


  • 0

Penemuan Telepon Genggam

Category : Artikel

Dijaman yang serba canggih ini telepon selular atau handphone (yang kita kenal saat ini) pertama kali hadir tanggal 3 April 1873 di New York. Saat itu ponsel yang dibuat Motorola masih berupa Prototipe dan di uji coba oleh Martin Copper disekitar jalan didaerah New York. Saat itu, Cooper yang berusia 44 tahun dipandang aneh oleh orang-prang yang melihatnya sepanjang jalan. “Waktu itu semua orang memperhatikan ketika aku berjalan menyusuri jalan sambil berbicara di telepon, Bahkan ada orang yang berhenti bergerak dan hanya memandangi saya”

Pengguna Handphone Pertama di Dunia

Panggilan telepon menggunakan handphone pertama kali adalah menelepon Dr Joel S Engel, seorang pesaing yang bekerja sebagai Kepala penelitian di Bell Labs Phone Company, dan Cooper mengatakan kepada Engel kalau dunia ini sudah ada telepon pertama yang tidak membutuhkan kabel dan Cooper yang membuatnya. Kemudian Cooper mengundang wartawan untuk jumpa pers dan mendemonstrasikan di depan para wartawan untuk membuktikan kalau teknologi komunikasi pada saat itu benar-benar sedang berkembang, dan komunikasi wireless bukanlah tipuan.

Sejak Motorola merilis ponsel pertama tersebut, terjadi perkembangan yang luar biasa pada industri telepon selular, yakni dengan bermunculannya ponsel dengan ukuran yang lebih kecil. Motorola mulai memasarkan ponsel pertamanya pada tahun 1983 dengan nama Motorola Dyna-TAC dengan bobot sebesar 0,4 kilogram dan harganya US$ 3.500.

 

Telepon genggam atau handphone atau Telepon seluler adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap, namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel; wireless). Saat ini Indonesia mempunyai dua jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System for Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access). Badan yang mengatur telekomunikasi seluler Indonesia adalah Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI).

Sejarah

Penemu sistem telepon genggam yang pertama adalah Martin Cooper, seorang pekerja di pabrikan Motorola pada tanggal 03 April 1973, walaupun sering disebut-sebut penemu telepon genggam adalah sebuah tim dari salah satu divisi Motorola (divisi tempat Cooper bekerja) dengan model pertama adalah DynaTAC. Ide yang dicetuskan oleh Cooper adalah sebuah alat komunikasi yang kecil dan mudah dibawa bepergian secara fleksibel.

Cooper bersama timnya menghadapi tantangan bagaimana memasukkan semua material elektronik ke dalam alat yang berukuran kecil tersebut untuk pertama kalinya. Akhirnya sebuah handphone pertama berhasil diselesaikan dengan total bobot seberat dua kilogram. Untuk membuatnya,  Pabrikan Motorola membutuhkan biaya kurang lebih US$1 juta. “Pada tahun 1983, telepon genggam portabel berharga US$4 ribu (Rp36 juta) setara dengan US$10 ribu (Rp90 juta).

Setelah berhasil memproduksi telepon genggam, tantangan terbesar berikutnya adalah mengadaptasi infrastruktur untuk mendukung sistem komunikasi telepon genggam tersebut dengan menciptakan sistem jaringan yang hanya membutuhkan 3 MHz spektrum, setara dengan lima channel TV yang tersalur ke seluruh dunia.

Tokoh lain yang diketahui sangat berjasa dalam dunia komunikasi selular adalah Amos Joel Jr yang lahir di Philadelphia, 12 Maret 1918, ia memang diakui dunia sebagai pakar dalam bidang switching. Ia mendapat ijazah bachelor (1940) dan master (1942) dalam teknik elektronik dari MIT. Tidak lama setelah studi, ia memulai kariernya selama 43 tahun (dari Juli 1940-Maret 1983) di Bell Telephone Laboratories, tempat ia menerima lebih dari 70 paten Amerika di bidang telekomunikasi, khususnya di bidang switching. Amos E Joel Jr, membuat sistem penyambung (switching) ponsel dari satu wilayah sel ke wilayah sel yang lain. Switching ini harus bekerja ketika pengguna ponsel bergerak atau berpindah dari satu sel ke sel lain sehingga pembicaraan tidak terputus. Karena penemuan Amos Joel inilah penggunaan ponsel menjadi nyaman.

 

Perkembangan

  • Generasi awal

Sejarah penemuan telepon seluler tidak lepas dari perkembangan radio. Awal penemuan telepon seluler dimulai pada tahun 1921 ketika Departemen Kepolisian Detroit Michigan mencoba menggunakan telepon mobil satu arah. Kemudian, pada tahun 1928 Kepolisian Detroit mulai menggunakan radio komunikasi satu arah pada semua mobil patroli dengan frekuensi 2MHz.

Pada perkembangan selanjutnya, radio komunikasi berkembang menjadi dua arah dengan ‘’frequency modulated ‘’(FM).

Tahun 1940, Galvin Manufactory Corporation (sekarang Motorola)mengembangkan portable Handie-talkie SCR536, yang berarti sebuah alat komunikasi di medan perang saat perang dunia II. Masa ini merupakan generasi 0 telepon seluler atau 0-G, dimana telepon seluler mulai diperkenalkan.

Setelah mengeluarkan SCR536,kemudian pada tahun 1943 Galvin Manufactory Corporation mengeluarkan kembali partable FM radio dua arah pertama yang diberi nama SCR300 dengan model backpack untuk tentara U.S. Alat ini memiliki berat sekitar 35 pon dan dapat bekerja secara efektif dalam jarak operasi 10 sampai 20 mil.

Sistem telepon seluler 0-G masih menggunakan sebuah sistem radio VHF untuk menghubungkan telepon secara langsung pada PSTNlandline. Kelemahan sistem ini adalah masalah pada jaringan kongesti yang kemudian memunculkan usaha-usaha untuk mengganti sistem ini.

Generasi 0 diakhiri dengan penemuan konsep modern oleh insinyur-insinyur dari Bell Labs pada tahun 1947. Mereka menemukan konsep penggunaan telepon hexagonal sebagai dasar telepon seluler. Namun, konsep ini baru dikembangkan pada 1960-an.

  • Generasi 1

Telepon genggam generasi pertama disebut juga 1G. 1-G merupakan telepon genggam pertama yang sebenarnya. Tahun 1973, Martin Cooper dari Motorola Corp menemukan telepon seluler pertama dan diperkenalkan kepada public pada 3 April 1973. Telepon seluler yang ditemukan oleh Cooper memiliki berat 30 ons atau sekitar 800 gram. Penemuan inilah yang telah mengubah dunia selamanya. Teknologi yang digunakan 1-G masih bersifat analog dan dikenal dengan istilah AMPS. AMPS menggunakan frekuensi antara 825 Mhz- 894 Mhz dan dioperasikan pada Band800 Mhz. Karena bersifat analog, maka sistem yang digunakan masih bersifat regional. Salah satu kekurangan generasi 1-G adalah karena ukurannya yang terlalu besar untuk dipegang oleh tangan. Ukuran yang besar ini dikarenakan keperluan tenaga dan performa baterai yang kurang baik. Selain itu generasi 1-G masih memiliki masalah dengan mobilitas pengguna. Pada saat melakukan panggilan, mobilitas pengguna terbatas pada jangkauan area telpon genggam.

  • Generasi 2

Generasi kedua atau 2-G muncul pada sekitar tahun 1990-an. 2G di Amerika sudah menggunakan teknologi CDMA, sedangkan di Eropa menggunakan teknologi GSM. GSM menggunakan frekuensi standar 900 Mhz dan frekuensi 1800 Mhz. Dengan frekuensi tersebut, GSM memiliki kapasitas pelanggan yang lebih besar. Pada generasi 2G sinyal analog sudah diganti dengan sinyal digital. Penggunaan sinyal digital memperlengkapi telepon genggam dengan pesan suara, panggilan tunggu, dan SMS.

Telepon seluler pada generasi ini juga memiliki ukuran yang lebih kecil dan lebih ringan karena penggunaan teknologi chip digital. Ukuran yang lebih kecil juga dikarenakan kebutuhan tenaga baterai yang lebih kecil. Keunggulan dari generasi 2G adalah ukuran dan berat yang lebih kecil serta sinyal radio yang lebih rendah, sehingga mengurangi efek radiasi yang membahayakan pengguna.

  • Generasi 3

Generasi ini disebut juga 3G yang memungkinkan operator jaringan untuk memberi pengguna mereka jangkauan yang lebih luas, termasuk internet sebaik video call berteknologi tinggi. Dalam 3G terdapat 3 standar untuk dunia telekomunikasi yaitu Enhance Datarates for GSM Evolution (EDGE), Wideband-CDMA, dan CDMA 2000. Kelemahan dari generasi 3G ini adalah biaya yang relatif lebih tinggi, dan kurangnya cakupan jaringan karena masih barunya teknologi ini. Tapi yang menarik pada generasi ini adalah mulai dimasukkannya sistem operasi pada ponsel sehingga membuat fitur ponsel semakin lengkap bahkan mendekati fungsi PC. Sistem operasi yang digunakan antara lain Symbian, Android dan Windows Mobile

  • Generasi 4

Generasi ini disebut juga Fourth Generation (4G). 4G merupakan sistem ponsel yang menawarkan pendekatan baru dan solusi infrastruktur yang mengintegrasikan teknologi nirkabel yang telah ada termasuk wireless broadband (WiBro), 802.16e, CDMA, wireless LAN, Bluetooth, dan lain-lain. Sistem 4G berdasarkan heterogenitas jaringan IP yang memungkinkan pengguna untuk menggunakan beragam sistem kapan saja dan di mana saja. 4G juga memberikan penggunanya kecepatan tinggi, volume tinggi, kualitas baik, jangkauan global, dan fleksibilitas untuk menjelajahi berbagai teknologi berbeda. Terakhir, 4G memberikan pelayanan pengiriman data cepat untuk mengakomodasi berbagai aplikasi multimedia seperti, video conferencing,online game, dan lain-lain.

Sumber:http://teknologi-mu.blogspot.co.id/2012/09/sejarah-handphone-dan-perkembangannya.html, http://refliamnur.blogspot.co.id/2015/04/sejarah-penemuan-handphone-yang-perlu.html

 


  • 0

Hari Kesadaran Autisme Sedunia

Category : Artikel

Hari Kesadaran Autisme Sedunia (bahasa Inggris: World Autism Awareness Day) telah diselenggarakan setiap tahun sejak 9 September 1989. Penetapan hari ini berdasarkan Resolusi Majelis Umum PBB “62/139. World Autism Awareness Day” yang ditetapkan pada 18 Desember 2007, berdasarkan usulan Perwakilan Negara Qatar, dan didukung oleh semua negara anggota

Komponen utama

Resolusi Hari Kesadaran Autisme Sedunia (World Autism Awareness Day, disingkat WAAD) memiliki empat komponen utama:

  • Penetapan 2 April sebagai WAAD
  • Partisipasi organisasi-organisasi PBB, negara-negara anggota, LSM dan semua organisasi swasta & masyarakat untuk WAAD
  • Meningkatkan kesadaran autisme pada semua tingkatan dalam masyarakat
  • Sekretaris Jenderal PBB harus menyampaikan pesan ini kepada negara-negara anggota dan semua lembaga PBB lainnya.

Istilah/kata autism pertama kali digunakan oleh seorang psikiater Swiss yang bernama Eugene Bleuler, yang pada tahun 1908-1911 mengamati adanya suatu ciri tertentu pada penderita skizofrenia dewasa yang ia sebut sebagai autism yang berasal dari kata bahasa Yunani yaitu autos yang berarti sendiri, yang merupakan suatu istilah yang mencirikan bahwa seseorang menarik diri dari interaksi sosial dengan lingkungannya sehingga mereka seolah-olah hidup di dunia sendiri.

Gangguan kejiwaan berupa skizofrenia hanya terjadi/timbul pada orang dewasa atau remaja saja. Namun pada tahun 1938-1943, Leo Kanner di Universitas John Hopkins (Amerika Serikat) memperhatikan adanya ciri autism pada 11 orang anak yang tidak bisa melakukan kontak dengan orang di sekitarnya bahkan sejak usia 1 tahun, sehingga disebut sebagai infantile-autism (autisme infantil). Oleh karena itulah, sejak tahun 1940an sampai dengan tahun 1960an autisme disalah-sangkakan sebagai gangguan/masalah/kelainan jiwa yang terjadi pada masa kanak-kanak. Sehingga dengan demikian juga asal-muasal dulunya autisme ditangani oleh dokter spesialis jiwa. Maka penanganannyapun saat itu seperti juga penanganan terhadap penderita kelainan jiwa saat itu, seperti misalnya dirawat di rumah sakit jiwa dengan terapi kejut listrik, dlsb. Oleh karena sekarang diketahui bahwa autisme adalah merupakan gangguan perkembangan, maka yang lebih tepat autisme ditangani oleh dokter spesialis anak.

Pada tahun 1944, Asperger seorang ilmuwan Jerman juga mengidentifikasi kondisi seperti yang digambarkan oleh Kanner namun dalam bentuk yang lebih ringan, yang sekarang dikenal sebagai sindrom Asperger. Dulu Asperger memberi istilah autistic psychopathy. Pada tahun 1944, Bruno Bettleheim mengajukan teori refrigerator mother, yaitu seorang anak menjadi autistik oleh karena dalam awal masa kehidupannya tidak mendapat cukup stimuli dari ibunya yang tidak responsif terhadap anak mereka.

Sejak tahun 1980an sampai tahun 1990, dilakukan sangat banyak penelitian terhadap penyebab, prognosis dan terapi autisme. Dari penelitian diperkirakan bahwa autisme merupakan penyakit yang disebabkan oleh gangguan/kerusakan pada gen, yang menyebabkan masalah otoimun ataupun penyakit degeneratif pada sel-sel saraf di otak.

Buku Diagnostics and Statistics Manual of Mental Disorder (DSM) merupakan standar diagnosis autisme di Amerika Serikat. Pada edisi pertama (DSM-I) yang terbit pada tahun 1952, walau autisme sebenarnya sudah diketahui sebagai kondisi yang unik pada tahun 1943, namun tidak dicantumkan sebagai kelainan tersendiri pada DSM-I ini, melainkan dikategorikan ke dalam jenis reaksi skizofrenik pada masa kanak-kanak (schizophrenic reaction, childhood type).

Pada DSM-II yang terbit tahun 1968, autisme juga masih dikategorikan sama seperti pada DSM-I tersebut. Barulah pada DSM-III yang terbit pada tahun 1980, autisme diletakkan dalam kategori diagnostik yang tersendiri, namun masih disebut sebagai infantile autism. Kemudian disadari bahwa autisme ini bukan merupakan kelainan jiwa (skizofren) yang terjadi pada masa kanak-kanak, sehingga pada tahun 1987 kata infantile dihilangkan, dan diganti menjadi autistic disorder. DSM-IV yang diterbitkan pada tahun 1994 menambahkan kategori PDD (Pervasive Developmentel Disorder) dan beberapa subtipenya, yang sekarang dikenal sebagai ASD (Autistic Spectrum Disorder). Sebagai tambahan pada autistic disorder, diagnosis mungkin juga dikategorikan pada Aspreger’s Disorder, Rett’s Disorder, Childhood Disintegrative Disorder, and Pervasive Developmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD-NOS). DSM-V sudah diterbitkan pada tahun Mei 2013.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Kesadaran_Autisme_Sedunia,

www.kompasiana.com/lizarudy/sejarah-autisme_552e0e296ea834402a8b4589


  • 0

Hari Filateli Indonesia

Category : Artikel

Tanggal 29 Maret diperingati sebagai Hari Filateli Indonesia. Peringatan Hari Filateli Indonesia berawal dari para kolektor perangko pada tanggal 29 Maret 1922 berkumpul di Batavia yang sekarang di sebut Jakarta mendirikan klub filateli dengan nama “Postzegelverzamelaars Club Batavia”. Perkumpulan ini menjadi wadah gerakan terorganisasi secara nasional di wujudkan dalam pembentukan “Nederlandsch Indische Vereeniging van Postzegel Verzamelaars” tanggal 15 Agustus 1940 sebagai lanjutan “Postzegelverzamelaar Club Batavia” dan berkedudukan di Jakarta.

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia nama perkumpulan diubah menjadi “Algemene Vereeniging Voor Philatelisten In Indonesia” pada tahun 1953 menjadi Perkumpulan Umum Philateli Indonesia. Tahun 1965 menjadi Perkumpulan Philatelis Indonesia (PPI) dan akhirnya dalam tahun 1985 menjadi Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI).

Kata “filateli” berasal dari bahasa Inggris philately yang berasal dari bahasa Perancis “philatélie”, yang diciptakan oleh filatelis Georges Herpin pada tahun 1864. Ia menciptakan istilah baru tersebut untuk menggantikan kata timbromanie yang sempat digunakan selama beberapa tahun, namun kurang disukai. Ia menggabungkan akar kata bahasa Yunani φιλ(ο)- phil(o)-, berarti “suka”, dan ἀτέλεια ateleia, berarti “tidak membayar kewajiban dan pajak” membentuk kata “filateli”. Pada zaman itu, penggunaan perangko berarti penerima surat tidak dibebani biaya lagi, karena sudah dibayarkan oleh pengirim; sebelumnya, penerima suratlah yang harus membayar biaya pengiriman surat.

Filateli adalah aktivitas atau hobi mengumpulkan prangko dan benda-benda pos lainnya seperti Sampul Hari Pertama. Pengumpulan benda-benda pos itu kebanyakan mengutamakan edisi lama, meski edisi baru juga ikut dikumpulkan. Semakin tua usia benda pos tersebut, maka harganya semakin tinggi. Di Indonesia, kegiatan Filateli mendapat dukungan dari PT Pos Indonesia. Di setiap kantor pos besar terdapat loket atau ruang filateli.

Filatelis adalah Pengumpul Benda Filateli. Kata ini sebenarnya salah kaprah, karena yang disebut Filatelis adalah seorang spesialis, yang sangat mendalami satu bidang di dunia filateli saja. Misalnya hanya mendalami koleksi filateli bertema Palang Merah saja yang terbit di Indonesia saja. Jadi sebenarnya para pengumpul prangko cukup menyebut dirinya sebagai Stamps Collector atau Pengumpul Prangko. Tapi karena terlalu panjang sering menyingkat dan menyebut dirinya Filatelis.

Filateli selalu identik dengan kegiatan pengumpulan prangko untuk koleksi. Padahal filateli itu tak cuma kegiatan atau hobi mengumpulkan prangko semata tetapi juga meliputi seluruh benda-benda pos selain prangko, seperti kartu pos, souvenir sheet (carik kenangan), Sampul Hari Pertama/SHP (first day cover), International Reply Coupon (IRC), sampul surat, sampul peringatan, dan materai. Walau materai tadinya tak termasuk sebagai benda filateli meskipun dijual atau diterbitkan oleh dinas pos, namun organisasi filatelis sedunia dan se-Asia sudah membuka topik Revenue Stamps, sehingga berbagai bentuk penerimaan negara, seperti meterai, cukai, retribusi, dan sebagainya, bisa dimasukkan sebagai bahan koleksi. Bagi orang-orang yang masih awam di dunia filateli maupun yang pemula tentu masih bingung dengan nama-nama benda pos selain prangko yang disebutkan tadi. Tentu tak banyak yang paham tentang souvenir sheet, mini sheet, full sheet, sampul hari pertama, dan sampul peringatan. Ketiga benda pos ini merupakan benda-benda filateli yang paling suka dikoleksi oleh para filatelis (kolektor prangko) selain prangko. Souvenir sheet atau carik kenangan merupakan sehelai atau lembar kertas yang memuat prangko di dalamnya. Ukuran lembar kertas ini lebih besar dari prangkonya, tepinya tidak bergerigi. Jadi, pada hakikatnya souvenir sheet itu adalah prangko juga, dengan tambahan lembaran kertas di sekelilingnya. Seperti halnya prangko, souvenir sheet juga dapat dipergunakan untuk pemrangkoan, namun lebih ditujukan untuk koleksi filatelis.

Souvenir sheet sering pula dikenal sebagai mini sheet atau miniature sheet. Namun, tak semua sependapat kalau souvenir sheet itu disamakan dengan mini sheet. Di lapak-lapak penjualan benda-benda filateli, souvenir sheet dan mini sheet selalu ditempatkan dalam kategori masing-masing, kategori souvenir sheet atau mini sheet. Mini sheet dapat disebut sebagai kelompok kecil dari seri perangko yang masih menempel pada lembar di mana mereka dicetak. Di samping mini sheet terdapat pula full sheet. Full sheet ini merupakan lembar kertas yang memuat semua seri perangko yang diterbitkan dalam satu waktu. Jadi, full sheet dapat disebut sebagai edisi lengkap dari mini sheet yang cuma memuat beberapa perangko dari satu seri saja.

Contoh Mini Sheet (Sumber: Pos Indonesia)

Contoh Full Sheet (Sumber: Pos Indonesia)

Selain souvenir sheet, mini sheet, dan full sheet, benda pos yang paling banyak diburu kolektor perangko adalah Sampul Hari Pertama (SHP) atau disebut juga First Day Cover (FDC). SHP merupakan sampul yang diterbitkan secara resmi oleh pihak pos bertepatan dengan hari pertama penerbitan suatu (seri) prangko. Dalam sampul yang memuat seri prangko tersebut terdapat pula suatu cap khusus hari pertama yang dikeluarkan oleh pos. Apabila suatu sampul tak memenuhi persyaratan untuk sebuah SHP maka sampul tersebut tidak bisa disebut sebagai SHP, tetapi dapat disebut sebagai Sampul Khusus (SK). Contoh SK ini antara lain Sampul Peringatan (SP).

Contoh Sampul Hari Pertama (Sumber: Pos Indonesia)

Sampul Peringatan adalah sampul yang khusus dibuat untuk menandai atau memperingati suatu peristiwa yang dianggap penting. Dalam sampul peringatan terdapat pula suatu cap khusus peringatan dari peristiwa tersebut, namun bukan cap hari pertama penerbitan prangko seperti halnya SHP. Sampul peringatan tak hanya dibuat oleh pos, tapi juga bisa dibuat oleh siapa saja, seperti perorangan maupun perkumpulan. Sampul peringatan disertai juga dengan prangko namun bukan prangko baru untuk memperingati peristiwa tersebut, tapi prangko lama atau prangko biasa yang dicap dengan cap khusus tadi. Contoh Sampul Peringatan antara lain Sampul Peringatan 50 tahun Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) dan Sampul Peringatan Pameran Filateli Nasional Betawi 2012. Jadi, Sampul Peringatan itu dapat pula berupa Sampul Pameran.

Contoh Sampul Peringatan (Sumber: Pos Indonesia)

Selain souvenir sheet, mini sheet maupun full sheet, SHP, dan SP tadi, benda pos yang sering dikoleksi adalah kartupos berterakan prangko, carnet atau karnet, maximum card,  booklet prangko atau buku prangko, berbagai macam kemasan prangko dan merchandise, serta tak ketinggalan pula IRC (International Reply Coupon). Di antara benda-benda pos tersebut yang masih terdengar asing di telinga non filatelis adalah maximum card, booklet prangko, carnet (karnet), dan IRC.  Maximum card adalah kartupos bergambar yang memuat lukisan atau gambar yang bertema sesuai dengan seri prangko yang baru terbit. Maximum card ini juga ditempeli prangko dan diberi cap khusus.

Contoh Maximum Card (Sumber: Pos Indonesia)

Booklet prangko adalah semacam buku kecil yang lembaran dalamnya memuat beberapa prangko. Dalam booklet ini terdapat pula informasi yang berisi tentang spesifikasi prangko, tujuan diterbitkannya prangko, dan beberapa informasi yang berkaitan dengan prangko yang diterbitkan tersebut. Contoh booklet prangko yang pernah diterbitkan antara lain Booklet Prangko 100 tahun Bung Karno. Dalam booklet ini informasi tentang Soekarno pun disertakan seperti biografi singkat hingga perannya dalam sejarah Indonesia, termasuk beberapa foto Sang Proklamator.

Jenis benda filateli lain yang tak banyak diketahui oleh orang awam adalah karnet atau carnet. Bagi seorang filatelis benda pos ini sudah tak asing lagi. Apa itu karnet? Karnet merupakan kertas tebal, berbentuk lipatan yang pada bagian dalamnya ditempeli prangko terbitan baru yang telah dibubuhi cap Hari Terbit Pertama sedangkan bagian luarnya memuat tulisan atau gambar yang sesuai dengan prangko tersebut. Menurut info yang saya dapat dari Wikipedia, selama ini hanya beberapa kali karnet diterbitkan yaitu karnet yang diterbitkan dalam rangka Hari Bahari, Expo ’86 (Pameran Dunia) Vancouver (Kanada), dan Pameran Internasional Filateli Asia ke 6 INDOPEX ’93 di Surabaya.

Contoh halaman karnet yang memperingati 400 tahun pos Polandia.(Sumber: stampspoland.nl

Terakhir, benda pos yang tak begitu dikenal oleh orang banyak adalah IRC. IRC atau Kupon Balasan Internasional diterbitkan oleh UPU (Union Postale Universalle) yang berkedudukan di Swiss, Geneva. IRC berbentuk kupon biasa, dari kertas yang berukuran sekitar 100mm X 70 mm. Si penerima IRC dapat menukarkan dengan prangko yang berlaku di negaranya dan dapat menggunakannya untuk mengirimkan surat jawaban kepada si pengirim surat.

Benda-benda pos memang menarik untuk dikoleksi, selain bernilai seni harganya pun bisa melangit, terutama untuk benda-benda pos yang langka. Apalagi kalau terdapat tanda tangan orang ternama dalam benda pos seperti Sampul Hari Pertama dan Sampul Peringatan, tentu harganya makin melangit pula. Jadi, kegiatan pengumpulan benda pos seperti prangko tak hanya sekadar hobi tapi juga bernilai investasi yang tinggi.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Filateli, http://koranmakassaronline.com/v2/29-maret-1922-hari-filateli-indonesia-mulai-di-peringati/, http://www.kompasiana.com/abdinst/filateli-itu-tak-cuma-prangko_550eaf78813311bb2dbc639d


  • 0

Kelahiran Larry Page

Category : Artikel

Lawrence Page

Lahir 26 Maret 1973 (umur 43)
Lansing, Michigan
Pekerjaan Pendiri dan Chief Executive Officer/CEO Google Inc.
Kekayaan bersih ▼ $15.8 billion USD (2008)
Pasangan Lucinda Southworth

Lawrence Edward “Larry” Page (lahir di LansingMichigan26 Maret 1973; umur 43 tahun) adalah salah satu pendiri dari mesin pencari internet Google bersama Sergey Brin. Sejak 4 April 2011, ia menjabat sebagai Chief Executive Officer/CEO di Google Inc. menggantikan Eric Schmidt.

Awal kehidupan dan pendidikan

Larry Page dilahirkan di LansingMichigan, ayahnya Carl Page dan ibunya, Gloria, adalah seorang profesor Ph.D. di bidang Komputer Sains di Michigan State University.

Page adalah seorang lulusan dari East Lansing High School. Page memperoleh gelar Bachelor of Science dalam teknik komputer dari Universitas Michigan dengan pujian dan seorang lulusan Master dari Universitas Stanford.

Karier

Semua orang yang menggunakan internet pasti mengenal Google. Bisa dibilang, Google adalah akar dari semua situs yang ada di internet, karena kebanyakan orang menggunakan Google sebagai halaman terdepan dalam browser mereka.

Tidak hanya tersohor sebagai search engine, Google juga menguasai banyak produk populer lainnya, seperti Gmail, Youtube, Android, dan lain-lain. Kehebatan Google di industri teknologi ini tidak lepas dari salah satu pendirinya, Larry Page. Berikut adalah sekelumit cerita biografi Larry Page, sang pendiri Google nan fenomenal.

Keahlian Page dalam hal teknologi bisa dibilang sudah mendarah daging dalam keluarganya karena kedua orang tuanya, Carl Vincent Page dan Gloria Page, bekerja di bidang sistem komputer dan programming. Page bercerita kalau rumah di masa kecilnya selalu berantakan dengan komputer-komputer, majalah sains dan teknologi, dan majalah Popular Science yang berserakan. Dimulai dari situlah, Page mulai tertarik untuk mengikuti jejak orang tuanya.

Page menyelesaikan masa kuliahnya di University of Michigan untuk jurusan Ilmu Komputer. Semasa kuliah, ia membuat beberapa inovasi unik seperti menciptakan printer yang terbuat dari susunan Lego, menciptakan konsep transportasi dalam universitas dengan kendaraan yang mirip dengan monorail, dan mengembangkan business plan untuk perusahaan yang menggunakan software untuk menciptakan musik.

Salah satu loncatan terbesar dalam perjalanan Page untuk mendirikan Google datang saat ia berada di Standford University untuk mendapatkan gelar PhD. Page mengangkat sebuah tema yang berhubungan dengan sistem yang ada di World Wide Web. Sang supervisor, mendukung ide ini untuk dikembangkan lebih jauh.

Di tempat itu juga lah, Page bertemu dengan Sergey Brin, kompatriotnya dalam mendirikan Google. Page bekerja sama dengan Brin untuk menyelesaikan tulisannya yang diberi judul “The Anatomy of a Large-Scale Hypertextual Web Search Engine” itu, yang menjadi salah satu dokumen ilmiah mengenai internet yang paling banyak diunduh hingga saat ini.

Berkat kepiawaian Page dalam mengembangkan business plan, kedua pasangan ini berhasil mendapatkan pinjaman sebesar $1 juta dari keluarga dan teman-temannya untuk memulai perusahaan baru yang diberi nama Google dan pindah ke wilayah Mountain View pada tahun 2000. Pada bulan Juni 2000, Google telah mencakup 1 miliar URL dan menjadikannya search engine paling komperhensif untuk saat itu bahkan sampai sekarang.

Karena jasanya yang sangat besar, Page mendapatkan Marconi Prize, sebuah penghargaan bagi tokoh yang berperan besar dalam kemajuan komunikasi. Saat ini Larry Page menjabat sebagai CEO dari Alphabet, yang merupakan perusahaan induk dari Google. Ayah dari 2 anak ini diperkirakan memiliki kekayaan bersih mencapai $38,3 miliar (Rp532 triliun). Itu dia cerita singkat biografi Larry Page dan bagaimana perjalanan panjangnya dalam membangun Google hingga menjadi raksasa penguasa internet sekarang ini.

Menurut Forbes, Page mempunyai perkiraan kekayaan bersih sebesar AS$12,8 miliar, membuatnya orang nomor 27 terkaya di dunia (satu tempat di belakang pendiri lain Google, Sergey Brin). Pada September 2005 dia dan pendiri Google lainnya, Sergey Brin, membeli sebuah pesawat penumpang yang sangat besar, sebuah Boeing 767, untuk penggunaan pribadi mereka.

 

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Larry_Page, http://www.gadgetgaul.com/biografi-larry-page.html


  • 0

Penemuan Satelit Titan

Category : Artikel

 

Titan dalam warna alami. Atmosfer tebal Titan berwarna jingga akibat organonitrogen yang padat.
Penemuan
Penemu Christiaan Huygens
Tanggal ditemukan 25 Maret 1655
Penamaan
Nama alternatif Saturn VI
Pengucapan i/ˈtaɪtən/
Ciri-ciri orbit
Periapsis 1.186.680 km
Apoapsis 1.257.060 km
Sumbu semi-mayor 1.221.870 km
Eksentrisitas 0,0288
Periode orbit 15,945 hari
Inklinasi 0,34854 ° (ke khatulistiwa Saturnus)
Satelit bagi Saturnus
Ciri-ciri fisik
Jari-jari rata-rata 2,576±2 km (0,404 Bumi) (1,480 Bulan)
Luas permukaan 8,3×107 km2
Volume 7,16×1010 km3 (0,066 Bumi) (3,3 Bulan)
Massa 1,3452±0,0002×1023 kg (0,0225 Bumi) (1,829 Bulan)
Massa jenis rata-rata 1,8798±0,0044 g/cm
Gravitasi permukaan di khatulistiwa 1,352 m/d2 (0,14 g) (0,85 Bulan)
Kecepatan lepas 2,639 km/d (1,11 Bulan)
Periode rotasi Sinkron
Kemiringan sumbu Nol
Albedo 0,22
Suhu 93.7 K (−179.5 °C)
Magnitudo tampak 8.2 hingga 9.0
Atmosfer
Tekanan permukaan 146,7 kPa
Komposisi Beragam
Stratosfer:
98,4% nitrogen (N2),
1,4% metana (CH4);
Troposfer rendah:
95% N2, 4,9% CH4

Titan (atau Saturnus VI) adalah satelit alami terbesar Saturnus. Satelit ini merupakan satu-satunya satelit alami yang memiliki atmosfer padat, dan satu-satunya objek selain Bumi yang terbukti memiliki cairan di permukaan.

Titan adalah satelit elipsoidal keenam dari Saturnus. Satelit ini seringkali digambarkan sebagai satelit yang mirip planet dan memiliki diameter yang 50% lebih besar dari Bulan, sementara massanya 80% lebih besar. Satelit ini merupakan satelit terbesar kedua di Tata Surya, setelah satelit Ganymede di Yupiter, dan volumenya lebih besar daripada planet Merkurius. Titan pertama kali ditemukan pada tahun 1655 oleh astronom Belanda Christiaan Huygens, dan merupakan satelit kelima di Tata Surya yang ditemukan setelah empat satelit milik Yupiter.

Titan terutama terdiri dari es air dan materi berbatu. Seperti Venus sebelum masa penjelajahan angkasa, atmosfernya yang padat dan buram menyulitkan penyelidikan permukaan Titan hingga tibanya wahana Cassini-Huygens di Saturnus pada tahun 2004 yang membuka pengetahuan baru seperti penemuan danau hidrokarbon cair di wilayah kutub Titan. Permukaannya secara geologis masih muda, dan meskipun pegunungan dan beberapa kriovolkano telah ditemukan, hanya sedikit kawah tubrukan yang ditemui.

Atmosfer Titan sebagian besar terdiri dari nitrogen; senyawa-senyawa kecil mengakibatkan pembentukan awan metana dan etana serta kabut organik yang kaya akan nitrogen. Iklimnya—termasuk angin dan hujan—menghasilkan permukaan yang mirip dengan Bumi, seperti bukit pasir, sungai, danau, dan laut (kemungkinan terdiri dari metana dan etana cair), dan delta, serta didominasi oleh pola cuaca musiman seperti di Bumi. Karena permukaannya yang mengandung cairan dan atmosfernya yang kaya akan nitrogen, siklus metana Titan dianggap mirip dengan siklus air di Bumi, meskipun suhunya jauh lebih rendah.

Penemuan dan penamaan

Christiaan Huygens menemukan Titan pada tahun 1655.

Titan ditemukan pada tanggal 25 Maret 1655 oleh astronom/fisikawan Belanda Christiaan Huygens. Huygens terilhami oleh penemuan empat satelit terbesar Yupiter oleh Galileo pada tahun 1610 dan pemutakhiran teknologi teleskopnya. Christiaan, dengan bantuan saudaranya Constantijn Huygens, Jr., mulai membangun teleskop sekitar tahun 1650. Christiaan Huygens menemukan satelit pertama yang mengorbit Saturnus dengan teleskop pertama yang mereka bangun.

Huygens dengan mudah menamai penemuannya Saturni Luna (atau Luna Saturni, dalam bahasa Latin berarti “bulan Saturnus”), dan menerbitkannya dalam risalahnya pada tahun 1655, De Saturni Luna Observatio Nova. Setelah Giovanni Domenico Cassini menerbitkan penemuan empat satelit Saturnus lainnya antara tahun 1673 hingga 1686, astronom mulai terbiasa menamai satelit tersebut dan Titan dengan sebutan Saturnus I hingga V (dengan Titan pada posisi keempat). Epitet lain yang awalnya digunakan adalah “satelit biasa Saturnus.” Titan secara resmi dinomori Saturn VI karena setelah penemuan pada tahun 1789, skema penomoran dihentikan untuk menghindari kebingungan (Titan pernah diberi nomor II, IV, dan VI).

Nama “Titan” diusulkan oleh John Herschel (putra dari William Herschel, penemu Mimas dan Enceladus) dalam terbitan 1847nya Results of Astronomical Observations made at the Cape of Good Hope. Nama tersebut berasal dari Titan (bahasa Yunani KunoΤῑτάν), yang dalam mitologi Yunani merupakan ras dewa-dewi yang kuat dan keturunan dari Gaia dan Uranus serta saudara kandung Kronos.

Orbit dan rotasi

Orbit Titan (merah) di antara satelit dalam Saturnus lainnya. Satelit di luar orbit meliputi (dari luar ke dalam) Iapetus dan Hyperion; satelit yang ada di dalam adalah Rhea, Dione, Tethys, Enceladus, dan Mimas.

Titan mengorbit Saturnus setiap 15 hari 22 jam. Seperti satelit lainnya, periode rotasinya sama dengan periode orbitnya; Titan terkunci secara pasang surut dalam rotasi sinkron dengan Saturnus, sehingga salah satu belahan selalu menghadap planet. Akibatnya, terdapat titik sub-Saturnus di permukaannya, dan di situ Saturnus akan tampak seolah tergantung tepat di atas kepala. Garis bujur di Titan diukur ke arah barat dari meridian yang melewati titik ini. Eksentrisitas orbitnya tercatat sebesar 0,0288, dan bidang orbitnya terinklinasi 0,348 derajat relatif terhadap khatulistiwa Saturnus.

Satelit Hyperion yang kecil dan berbentuk tak teratur terkunci dalam resonansi orbit 3:4 dengan Titan. Evolusi resonansi yang lambat—yang seharusnya membuat Hyperion bermigrasi dari orbit yang kacau—dianggap tidak mungkin berdasarkan permodelan. Hyperion kemungkinan terbentuk dalam orbit yang stabil, sementara Titan yang besar menarik atau mengeluarkan objek yang mendekatinya.

Ciri-ciri

Diameter Titan tercatat sebesar 5.150 km, dibandingkan planet Merkurius yang hanya 4.879 km, Bulan yang hanya 3.474 km, dan Bumi yang besarnya 12.742 km. Sebelum kedatangan wahana Voyager 1 pada tahun 1980, Titan diduga sedikit lebih besar dari Ganymede (diameter 5,262 km) dan maka dikira sebagai satelit terbesar di Tata Surya; namun, hal ini salah, dan perkiraan Titan menjadi berlebih akibat atmosfernya yang padat dan buram yang dapat mencapai beberapa kilometer di atas permukaannya.Diameter dan massa Titan (dan maka kepadatannya) mirip dengan satelit Ganymede dan Callisto di Yupiter. Dengan kepadatan sebesar 1,88 g/cm3, komposisinya terdiri dari setengah es air dan setengah materi berbatu. Meskipun komposisinya mirip dengan Dione dan Enceladus, satelit ini lebih padat akibat kompresi gravitasi.

Titan kemungkinan terdiferensiasi menjadi beberapa lapisan dengan inti berbatu berdiameter 3.400 km yang dikelilingi oleh lapisan yang terdiri dari berbagai bentuk kristal es. Bagian dalamnya mungkin masih panas dan mengandung lapisan cair yang terdiri dari “magma” air dan amonia di antara kerak es Ih dan lapisan es yang lebih dalam yang terdiri dari es bertekanan tinggi. Keberadaan amonia membuat air tetap cair bahkan dalam suhu serendah 176 K (−97 °C) (untuk campuran eutektik dengan air). Bukti keberadaan samudra telah ditunjukkan oleh wahana Cassini dalam bentuk gelombang radio berfrekuensi amat rendah di atmosfer Titan. Permukaan Titan diduga bukan merupakan pemantul gelombang berfrekuensi amat rendah yang baik, sehingga diduga malah memantulkan batas cairan-es sebuah samudra di bawah permukaan. Wahana Cassini mendapati beberapa kenampakan permukaan bergeser sejauh 30 km antara Oktober 2005 hingga Mei 2007, yang menunjukkan bahwa kerak dipisahkan dari bagian dalam, dan merupakan bukti tambahan yang mendukung keberadaan lapisan cair di dalam.

Penelitian pada awal tahun 2000 oleh DLR Institute of Planetary Research di Berlin-Adlershof menempatkan Titan dalam kelompok “satelites besar” bersama dengan Callisto dan Ganymede.

 
Perbandingan ukuran: Titan dalam inframerah (kiri bawah) dengan Bulan dan Bumi (atas dan kanan)
 
Struktur dalam Titan
 
Perbandingan massa Titan dengan satelit Saturnus lain: massa Titan meliputi 96% dari total massa satelit Saturnus

Pembentukan

Satelit Yupiter dan Saturnus diduga terbentuk melalui akresi, proses yang diduga juga membentuk planet-planet di Tata Surya. Setelah terbentuk, gas raksasa muda dikelilingi oleh piringan materi yang secara perlahan membentuk satelit. Namun, meski Yupiter memiliki empat satelit besar yang orbitnya seperti planet dan teratur, Titan mendominasi sistem Saturnus dan memiliki orbit yang sangat eksentrik yang tak dapat dijelaskan dengan akresi belaka. Model yang diusulkan untuk pembentukan Titan adalah model yang menjelaskan bahwa sistem Saturnus awalnya memiliki satelit yang seperti satelit Galileo Yupiter. Namun, satelit-satelit tersebut terganggu oleh serangkaian tubrukan raksasa yang akan membentuk Titan. Satelit Saturnus yang berukuran sedang seperti Iapetus dan Rhea terbentuk dari sisa tubrukan ini. Hal ini dapat menjelaskan eksentrisitas orbit Titan.

Atmosfer

Citra warna sejati lapisan kabut di atmosfer Titan.

Titan adalah satu-satunya satelit dengan atmosfer yang padat. Atmosfer ini kaya akan nitrogen, dan pengamatan dari atmosfer oleh Cassini pada tahun 2004 menunjukkan bahwa atmosfer Titan berotasi lebih cepat dari permukaannya (seperti planet Venus). Pengamatan dari wahana Voyager telah menunjukkan bahwa atmosfer Titan lebih padat dari atmosfer Bumi, dengan tekanan permukaan sekitar 1,45 kali Bumi. Secara keseluruhan atmosfer Titan 1,19 kali lebih besar dari atmosfer Bumi, atau 7,3 kali lebih besar berdasarkan luas per permukaan. Akibat gravitasi yang rendah, atmosfer Titan lebih luas dari Bumi.

Di atmosfer Titan terdapat lapisan kabut buram yang menghalangi cahaya dari Matahari dan sumber lain yang membuat kenampakan permukaan Titan tampak kabur. Atmosfer Titan juga tampak buram dalam berbagai panjang gelombang dan spektrum reflektansi permukaan sulit didapat dari orbit. Baru setelah tibanya misi Cassini–Huygens pada tahun 2004 citra langsung permukaan Titan dapat diperoleh.

Komposisi atmosfer di stratosfer meliputi 98,4% nitrogen dengan 1,6% sisanya terdiri dari metana (1,4%) dan hidrogen (0,1–0,2%). Terdapat jejak unsur hidrokarbon lain seperti etana, diasetilenametilasetilenaasetilena, dan propana, dan gas lain, seperti sianoasetilenahidrogen sianidakarbon dioksidakarbon monoksidasianogenargon dan helium. Sinar ultraviolet Matahari memecahkan metana dan reaksi ini membentuk hidrokarbon di atmosfer atas Titan, sehingga menghasilkan kabut jingga yang tebal. Titan menghabiskan 95% waktunya dalam magnetosfer Saturnus, yang membantu melindungi Titan dari angin matahari.

Energi dari Matahari seharusnya telah mengubah semua jejak metana di atmosfer Titan menjadi hidrokarbon yang lebih kompleks dalam 50 juta tahun – waktu yang singkat bila dibandingkan dengan usia Tata Surya. Hal ini menunjukkan bahwa metana seharusnya diisi ulang dari Titan sendiri. Metana di atmosfer Titan mungkin berasal dari bagian dalamnya, yang dilepaskan keluar melalui letusan kriovolkano.

Pada 3 April 2013, NASA melamporkan bahwa bahan kimia organik mungkin muncul di Titan berdasarkan penelitian yang menyimulasi atmosfer Titan. Kemudian, pada 6 Juni 2013, ilmuwan di Institut Astrofisika Andalusia melaporkan pelacakan hidrokarbon aromatik polisiklik di atmosfer atas Titan.

Iklim

Titan memiliki vorteks permanen di kutub selatan.

Suhu permukaan Titan tercatat sebesar 94 K (−179.2 °C). Pada suhu ini, es air memiliki tekanan uap yang sangat rendah, sehingga atmosfer hampir terbebas dari uap air. Titan hanya mendapat sekitar 1% dari jumlah sinar matahari yang didapat Bumi.

Metana atmosfer menghasilkan efek rumah kaca di permukaan Titan, dan tanpa hal tersebut Titan akan jauh lebih dingin. Sebaliknya, kabut di atmosfer Titan mengakibatkan efek anti-rumah kaca dengan memantulkan kembali cahaya matahari ke angkasa dan membatalkan sebagian dari pemanasan efek rumah kaca sehingga permukaannya lebih dingin daripada atmosfer atas.

Awan Titan, yang kemungkinan terdiri dari metana, etana, atau bahan organik sederhana lainnya, tersebar dan beragam. Penemuan oleh wahana Huygens menunjukkan bahwa atmosfer Titan secara periodik menghujani metana cair dan senyawa organik lain ke permukaannya.

Awan biasanya meliputi 1% piringan Titan, meskipun kadang-kadang awan dengan cepat meluas hingga meliputi 8%. Menurut salah satu hipotesis, awan selatan terbentuk ketika peningkatan sinar matahari selama musim panas menyebabkan konveksi. Permasalahan menjadi semakin rumit karena pembentukan awan tidak hanya diamati selama titik balik matahari setelah musim panas, namun juga selama pertengahan musim semi. Meningkatnya kelembaban metana di kutub selatan kemungkinan mengakibatkan perluasan awan yang cepat. Belahan selatan Titan mengalami musim panas hingga tahun 2010, ketika orbit Saturnus membuat belahan utara Titan terpapar sinar matahari. Ketika musim berganti, diperkirakan etana akan mulai berkondensasi di kutub selatan.

Kenampakan permukaan

Peta permukaan Titan dari April 2011.

Permukaan Titan dideskripsikan “kompleks, diproses cairan, [dan] secara geologis muda.” Titan sudah ada semenjak masa pembentukan Tata Surya, tetapi permukaannya lebih muda, dengan usia antara 100 juta hingga 1 miliar tahun. Proses geologis mungkin telah membentuk kembali permukaan Titan. Atmosfer Titan dua kali lebih tebal dari Bumi, sehingga sulit bagi alat-alat astronomi untuk mengambil citra permukaannya dalam spektrum cahaya tampak. Wahana Cassini menggunakan alat inframerah, altimetri radar, dan radar apertur sintetis (SAR) untuk memetakan Titan selama terbang dekat. Citra pertama menunjukkan geologi yang beragam, dengan wilayah yang kasar dan halus. Terdapat kenampakan yang tampaknya disebabkan oleh aktivitas kriovolkano, yang kemungkinan merupakan air berhulu yang tercampur dengan amonia. Terdapat pula beberapa kenampakan bergaris-garis yang beberapa di antaranya panjangnya mencapai ratusan kilometer dan tampaknya disebabkan oleh partikel yang tertiup angin. Penelitian juga telah menunjukkan bahwa permukaan Titan relatif halus; beberapa objek yang tampaknya merupakan kawah tubrukan tampaknya telah diisi, kemungkinan oleh hujan hidrokarbon atau volkano. Altimetri radar menunjukkan bahwa variasi ketinggian Titan rendah, biasanya tidak lebih dari 150 meter. Namun, perubahan ketinggian hingga 500 meter telah ditemukan dan Titan memiliki pegunungan yang tingginya antara beberapa ratus meter hingga 1 kilometer.

Permukaan Titan dipenuhi oleh wilayah terang dan gelap. Salah satunya adalah Xanadu, wilayah di khatulistiwa yang reflektif dan besar dengan ukuran sebesar Australia. Wilayah tersebut pertama kali dilacak melalui citra inframerah yang diabadikan oleh Teleskop Angkasa Hubble pada tahun 1994, dan nantinya dilihat oleh wahana Cassini. Wilayah itu dipenuhi oleh bukit-bukit, lembah, dan chasma. Di wilayah tersebut juga terdapat kenampakan topografis gelap yang mirip bubungan atau celah-celah. Kenampakan itu mungkin diakibatkan oleh aktivitas tektonik, yang menunjukkan bahwa Xanadu secara geologis masih muda. Penjelasan lain menyatakan bahwa kenampakan tersebut merupakan saluran yang terbentuk oleh cairan, sehingga merupakan wilayah tua yang terpotong oleh aliran. Terdapat wilayah gelap dengan ukuran yang mirip di Titan; diduga kenampakan tersebut merupakan lautan metana atau etana, namun pengamatan dari Cassini tampaknya menunjukkan hal yang sebaliknya.

     
Mosaik Titan dari terbang dekat Cassini pada Februari 2005. Wilayah gelap yang besar disebut Shangri-La. Titan dalam citra warna semu menunjukkan rincian permukaan dan atmosfer. Xanadu merupakan wilayah terang di kanan tengah. Titan Globe, mosaik citra inframerah dengan tatanama

Cairan

Mosaik radar wilayah kutub utara Titan dalam warna semu yang diabadikan oleh Cassini. Warna biru menunjukan reflektivitas radar yang rendah, yang diakibatkan oleh laut, danau, dan jaringan sungai hidrokarbon yang terisi oleh cairan etana, metana, dan N2 terurai. Foto lain menunjukkan bahwa benda besar di kiri bawah, yaitu Kraken Mare, dua kali lebih besar dari yang dapat dilihat di gambar ini. Ligeia Mare ada di kanan bawah.

Kemungkinan keberadaan lautan hidrokarbon di Titan pertama kali diperkirakan berdasarkan data Voyager 1 dan 2 yang menunjukkan bahwa Titan memiliki atmosfer yang tebal dengan suhu dan komposisi yang tepat untuk mendukung keberadaan lautan tersebut. Namun, bukti langsung baru diperoleh pada tahun 1995 setelah data dari Hubble dan pengamatan lain menunjukkan keberadaan metana cair di Titan, baik dalam lubang yang terpisah ataupun dalam bentuk samudra, seperti air di Bumi.

Misi Cassini membuktikan hipotesis tersebut, meskipun tidak langsung. Ketika wahana tersebut tiba di sistem Saturnus pada tahun 2004, danau atau lautan hidrokarbon diharapkan dapat dilacak melalui sinar matahari yang dipantulkan oleh permukaan cairan tersebut, namun awalnya tidak ada pantulan yang teramati. Di dekat kutub selatan Titan, kenampakan gelap yang disebut Ontario Lacus ditemukan (dan kemudian kenampakan tersebut dipastikan sebagai sebuah danau). Garis pantai juga diidentifikasi di dekat kutub melalui citra radar. Setelah melakukan terbang lintas pada 22 Juli 2006, yang berhasil mengabadikan citra lintang utara Titan (saat musim dingin), sejumlah potongan yang besar dan halus ditemukan di permukaan kutub. Berdasarkan pengamatan, ilmuwan mengumumkan “bukti pasti keberadaan danau yang berisi metana di satelit Titan” pada Januari 2007. Tim Cassini–Huygens menyimpulkan bahwa citra-citra yang diabadikan hampir pasti merupakan danau hidrokarbon yang telah lama dicari, sehingga menjadi cairan permukaan yang pertama ditemukan di luar Bumi. Beberapa tampaknya memiliki saluran yang terdapat di depresi topografis. Kenampakan erosi cairan tampak baru saja terjadi: saluran di beberapa wilayah secara mengejutkan tidak banyak mengakibatkan erosi, sehingga menunjukkan bahwa erosi di Titan berlangsung sangat lambat, atau mungkin fenomena lain telah menghapuskan dasar sungai dan bentang alam lama. Secara keseluruhan, pengamatan radar Cassini menunjukkan bahwa danau-danau hanya meliputi beberapa persen permukaan, sehingga Titan jauh lebih kering daripada Bumi. Walaupun sebagian besar danau terkonsentrasi di dekat kutub-kutub (yang tidak banyak mengalami penguapan akibat kurangnya sinar matahari), sejumlah danau hidrokarbon di wilayah gurun khatulistiwa juga telah ditemukan, termasuk di dekat wilayah Shangri-La, yang besarnya kurang lebih setengah dari Danau Garam Besar Utah. Danau-danau di wilayah khatulistiwa kemungkinan merupakan “oasis“, atau dalam kata lain cairannya berasal dari akuifer di bawah tanah.

Pada Juni 2008, Spektrometer Pemetaan Visual dan Inframerah (VIMS) di wahana Cassini memastikan keberadaan etana cair di Ontario Lacus. Kemudian, pada tanggal 21 Desember 2008, Cassini melewati Ontario Lacus secara langsung dan mengamati pantulan yang kuat di radar. Pantulan tersebut menunjukkan bahwa danau tidak bervariasi lebih dari 3 mm (yang dapat berarti angin permukaan tidak banyak, atau cairan hidrokarbon di danau tersebut kental).

VIMS Cassini pada 8 Juli 2009 melacak pantulan kuat yang menunjukkan keberadaan permukaan yang halus dan seperti kaca di wilayah kutub utara, yang kini disebut Jingpo Lacus (danau Jingpo), segera musim dingin selama 15 tahun di wilayah tersebut selesai.

Pengukuran radar pada Juli 2009 dan Januari 2010 menunjukkan bahwa permukaan Ontario Lacus sangat dangkal, dengan rata-rata kedalaman antara 0,4 hingga 3,2 m, dan kedalaman maksimum antara 2,9 hingga 7,4 m. Sementara itu, kedalaman Ligeia Mare di belahan utara melebihi 8 m.

Selama terbang lintas pada 26 September 2012, radar Cassini melacak keberadaan sungai di wilayah kutub utara Titan dengan panjang lebih dari 400 kilometer. Sungai ini disandingkan dengan sungai Nil yang jauh lebih besar di Bumi. Kenampakan ini berakhir di Ligeia Mare.

Dalam enam terbang lintas antara tahun 2006 hingga 2011, Cassini mengumpulkan data pelacakan radiometrik dan navigasi optik yang dapat menunjukkan perubahan bentuk Titan. Kepadatan Titan konsisten dengan benda langit yang terdiri dari 60& batuan dan 40% air. Berdasarkan analisis, permukaan Titan dapat naik dan turun hingga 10 meter setiap kali mengorbit. Hal ini menunjukkan bahwa bagian dalam Titan relatif berubah-ubah, dan model Titan yang paling tepat kemungkinan adalah model yang memperkirakan keberadaan lapisan es yang mengapung di atas samudra global di kedalaman lebih dari lusinan kilometerPenemuan tersebut, ditambah dengan hasil penelitian sebelumnya, juga menunjukkan bahwa kemungkinan samudra Titan berada tidak lebih dari 100 km di bawah permukaan.

   
Gambar pantulan kuat di Jingpo Lacus, sebuah danau di wilayah kutub utara Citra radar Bolsena Lacus (kanan bawah) dan danau hidrokarbon belahan utara lainnya
   
Perbandingan jumlah danau di belahan utara (kiri) dan belahan selatan (kanan) Titan Dua gambar belahan selatan Titan yang diambil pada tahun 2004 dan 2005, menunjukkan perubahan danau-danau kutub selatan

Kawah tubrukan

Citra radar kawah tubrukan dengan diameter 139 km di permukaan Titan, menunjukkan dasar yang halus, pinggiran yang kasar, dan kemungkinan puncak di tengah.

Data dari Cassini menunjukkan keberadaan beberapa kawah tubrukan di permukaan Titan. Kawah tubrukan tersebut tampaknya relatif muda bila dibandingkan dengan usia Titan. Contoh kawah yang ditemukan adalah cekungan cincin ganda yang disebut Menrva dengan lebar 440 km, yang dilacak oleh Cassini sebagai pola konsentrik terang-gelap. Ada pula kawah yang lebih kecil dan rata dengan lebar 60 km yang dinamai Sinlap dan kawah dengan puncak di tengah dan dasar yang gelap dengan lebar 30 km yang dinamai Ksa. Pencitraan radar dan Cassini juga menemukan sejumlah kenampakan bulat di permukaan Titan yang mungkin diakibatkan oleh tubrukan, namin tidak memiliki ciri tertentu yang memastikan statusnya. Misalnya, cincin terang selebar 90 km yang disebut Guabonito telah diamati oleh Cassini. Kenampakan ini diduga merupakan kawah tubrukan yang terisi oleh sedimen gelap yang dibawa oleh angin. Contoh lain ada di wilayah Shangri-La dan Aaru yang gelap. Pengamatan dari radar juga menemukan beberapa kenampakan bulat yang mungkin merupakan kawah di wilayah terang Xanadu pada 30 April 2006.

Banyak kawah Titan yang mengalami erosi dan perubahan. Sebagian besar kawah memiliki pinggir yang tidak lengkap, meskipun beberapa kawah di Titan memiliki pinggir yang lebih besar daripada di tempat lain di Tata Surya. Namun, tidak banyak bukti yang menunjukkan pembentukan palimpsest (kawah yang reliefnya sudah menghilang karena perembetan permukaan ber-es) melalui relaksasi kerak (yang terjadi di satelit-satelit ber-es lainnya). Sebagian besar kawah tidak memiliki puncak di tengah dan dasar yang halus, yang kemungkinan diakibatkan oleh letusan kriovolkano. Jumlah kawah di Titan sendiri relatif kurang karena berbagai macam proses geologis mengisi kembali kawah. Selain itu, atmosfer juga melindungi permukaan Titan, dan diperkirakan atmosfer mengurangi jumlah kawah hingga setengah.

Data beresolusi tinggi dari radar (namun terbatas, hanya 22%) pada tahun 2007 menunjukkan ketidakseragaman persebaran kawah. Jumlah kawah di wilayah Xanadu 2–9 kali lebih banyak dari wilayah lain. Kepadatan kawah di belahan depan 30% lebih besar daripada belahan belakang. Sementara itu, kepadatan kawah di wilayah gurun khatilistiwa dan kutub utara lebih rendah.

Permodelan jalur dan sudut tubrukan pra-Cassini menunjukkan bahwa ketika tubrukan menghujam kerak es air, beberapa pecahan (ejecta) dari tubrukan tersebut tetap cair di dalam kawah selama berabad-abad atau bahkan lebih lama, waktu yang cukup untuk sintesis molekul sederhana yang akan menjadi cikal bakal kehidupan.

Kriovolkanisme dan pegunungan

Citra inframerah dekat Tortola Facula, diduga merupakan sebuah kriovolkano.

Citra warna semu VIMS yang menunjukkan kriovolkano Sotra Patera. Dengan menggabungkan peta 3D dari data radar, dapat dilihat bahwa kriovolkani ini memiliki puncak dengan ketinggian 1000 meter dan kawah dengan kedalaman 1500 meter.

Ilmuwan telah lama menduga bahwa keadaan Titan mirip dengan Bumi, meskipun suhunya jauh lebih rendah. Pelacakan Argon 40 di atmosfer pada tahun 2004 menunjukkan bahwa gunung berapi telah mengeluarkan “lava” yang terdiri dari air dan amonia. Peta persebaran danau di permukaan Titan juga menunjukkan bahwa jumlah metana di permukaan tidak cukup untuk tetap bertahan di atmosfer, sehingga kemungkinan sebagian dari metana tersebut berasal dari proses vulkanik.

Terdapat beberapa kenampakan permukaan yang dapat ditafsirkan sebagai sebuah kriovolkano. Salah satu dari kenampakan tersebut ditunjukkan melalui pengamatan radar Cassini pada tahun 2004, yang disebut Ganesa Macula. Kenampakan ini mirip dengan kenampakan “kubah panekuk” di Venus, dan akibatnya awalnya dikira sebagai sebuah kriovolkano, meski American Geophysical Union menentang hipotesis ini pada Desember 2008. Pada akhirnya, kenampakan tersebut ternyata bukan kubah, tetapi merupakan hasil dari gabungan potongan terang dan gelap yang tidak disengaja. Pada tahun 2004, Cassini juga melacak kenampakan terang (disebut Tortola Facula) yang ditafsirkan sebagai sebuah kubah kriovolkano. Tidak ada kenampakan sejenis yang ditemukan semenjak tahun 2010. Pada Desember 2008, astronom mengumumkan penemuan dua “titik terang” yang bersifat sementara tetapi berumur panjang di atmosfer Titan, yang tampaknya tidak dapat dijelaskan dengan pola cuaca belaka, sehingga mungkin diakibatkan oleh peristiwa kriovolkano.

Pada Maret 2009, struktur yang mirip dengan aliran lava diumumkan ditemukan di wilayah yang disebut Hotei Arcus, yang berfluktuasi kecerahannya selama beberapa bulan. Meski ada banyak fenomena yang dapat menyebabkan fluktuasi ini, aliran lava ditemukan muncul 200 meter di atas permukaan Titan, yang mungkin meletus dari bawah permukaan.

Pegunungan sepanjang 150 km long, selebar 30 km dan setinggi 1,5 km juga ditemukan oleh Cassini pada tahun 2006. Pegunungan ini berada di belahan selatan dan diduga terdiri dari materi ber-es dan dilapisi oleh salju metana. Pergerakan lempeng tektonik yang mungkin dipengaruhi oleh cekungan tubrukan di sekitar dapat membuka celah yang mengakibatkan penumpukan materi pegunungan. Sebelum misi Cassini, ilmuwan mengasumsikan bahwa sebagian besar topografi Titan terdiri dari struktur tubrukan, namun penemuan Cassini malah menunjukkan bahwa (sama seperti Bumi) pegunungan terbentuk melalui proses geologis. Pada Desember 2010, tim dari misi Cassini mengumumkan penemuan kriovolkano yang meyakinkan. Kriovolkano itu dinamai Sotra Patera dan merupakan bagian dari rentetan tiga pegunungan, yang masing-masing tingginya berkisar antara 1000 hingga 1500 m, dan di atas beberapa pegunungan terdapat kawah besar. Tanah di sekitar dasar tampaknya dipenuhi oleh aliran lava beku.

Jika vulkanisme memang ada di Titan, menurut hipotesis proses tersebut didorong oleh energi yang dilepaskan oleh peluruhan unsur radioaktif di dalam mantel, seperti yang terjadi di Bumi. Magma di Bumi terbuat dari batuan cair, yang kurang padat bila dibandingkan dengan kerak berbatu di atasnya. Karena es tidak lebih padat dari air, magma Titan yang berair lebih padat daripada kerak esnya. Akibatnya, kriovolkanisme di Titan membutuhkan energi yang besar, kemungkinan dari peregangan pasang surut dari Saturnus. Kemungkinan lain, tekanan yang dibutuhkan untuk mendorong kriovolkano dihasilkan oleh es Ih yang terbentuk di bawah kerak luar Titan. Es bertekanan rendah yang melapisi lapisan amonium sulfat cair naik ke atas karena gaya apung. Proses inilah yang melapisi kembali Titan dan membantu menghasilkan bentang alam dan bukit pasir yang terbentuk oleh angin.

Pada tahun 2008, Jeffrey Moore (geolog keplanetan dari Ames Research Center) mengusulkan sudut pandang alternatif. Dengan mempertimbangkan bahwa tidak ada kenampakan vulkanik yang telah diidentifikasi dengan jelas hingga saat ini, ia menekankan bahwa Titan merupakan dunia yang tidak aktif secara geologis, dan permukaannya dibentuk oleh tubrukan, erosi fluvial dan aeolianpemborosan massal, dan proses eksogenik lainnya. Menurut hipotesis ini, metana tidak dihasilkan oleh gunung berapi, namun perlahan-lahan berdifusi dari bagian dalam Titan yang dingin dan keras. Ganesa Macula mungkin merupakan sebuah kawah tubrukan yang terkikis dengan bukit pasir gelap di tengah. Bubungan bergunung yang diamati di beberapa wilayah dapat dianggap sebagai gawir struktur cincin ganda hasil tubrukan yang sangat terdegradasi atau sebagai hasil dari kontraksi global yang diakibatkan oleh pendinginan bagian dalam secara perlahan. Dalam hipotesis ini, Titan masih dapat memiliki samudra di bagian dalam yang terdiri dari campuran eutektik air-amonia dengan suhu 176 K (−97 °C), yang cukup rendah untuk disebabkan oleh peluruhan unsur radioaktif di inti Titan. Wilayah Xanadu yang terang mungkin merupakan wilayah yang sangat berkawah dan terdegradasi seperti di permukaan Callisto. Memang, bila Callisto punya atmosfer, Callisto dapat menjadi model geologi Titan. Bahkan Jeffrey Moore menyebut Titan “Callisto yang bercuaca”.

Medan gelap

Bukit pasir di Gurun Namib di Bumi (atas) dibandingkan dengan gurun di Belet, Titan.

Citra-citra permukaan Titan yang diabadikan oleh teleskop di Bumi pada awal tahun 2000-an menunjukkan medan gelap yang besar di khatulistiwa Titan. Sebelum tibanya Cassini, wilayah tersebut diduga merupakan lautan materi organik seperti tar atau hidrokarbon cair. Citra radar yang diabadikan oleh wahana Cassini malah membuktikan bahwa wilayah tersebut merupakan dataran yang dilapisi oleh bukit pasir yang membujur dengan ketinggian hingga 330 meter, lebar sekitar satu kilometer, dan panjang antara puluhan hingga ratusan kilometer. Bukit pasir yang membujur (atau melintang) diduga terbentuk oleh angin yang mengikuti satu arah rata-rata atau berganti-ganti antara dua arah yang berbeda. Bukit pasir sejenis ini biasanya sejalan dengan rata-rata arah angin. Di Titan, angin yang mengarah ke timur berkombinasi dengan angin pasang surut yang berubah-ubah (kurang lebih 0,5 meter per detik). Angin pasang surut diakibatkan oleh gaya pasang surut dari Saturnus, yang 400 kali lebih kuat daripada gaya pasang surut Bulan di Bumi dan cenderung mengarahkan angin ke khatulistiwa. Akibatnya, bukit pasir terbentuk dalam garis paralel yang panjang dan tersusun barat ke timur. Rentetan bukit pasir berakhir di sekitar pegunungan karena arah angin berganti.

Pasir di Titan kemungkinan tidak terbuat dari butiran silikat seperti pasir di Bumi, namun terbentuk ketika metana cair menghujani Titan dan mengerosikan batuan es (kemungkinan melalui banjir bandang). Menurut kemungkinan lain, pasir berasal dari zat padat organik yang dihasilkan oleh reaksi fotokimia di atmosfer Titan. Penelitian komposisi bukit pasir pada Mei 2008 menunjukkan bahwa bukit pasir memiliki lebih sedikit air dibandingkan wilayah Titan lainnya, dan kemungkinan besar berasal dari materi organik yang terkumpul setelah menghujani permukaan.

Pengamatan dan penjelajahan

Citra kabut Titan yang diabadikan oleh Voyager 1 (1980)

Titan tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, namun dapat diamati melalui teleskop kecil. Pengamatan secara amatir sulit dilakukan karena Titan terletak dekat dengan planet Saturnus dan cincinnya; occulting bar dapat digunakan untuk menghalangi Saturnus. Titan memiliki magnitudo tampak maksimum sebesar +8,2, dan rata-rata magnitudo oposisi 8,4. Sebagai perbandingan, magnitudo tampak Ganymede yang ukurannya mirip tercatat sebesar +4,6.

Pengamatan Titan sebelum masa penjelajahan angkasa tidak banyak dilakukan. Pada tahun 1907, astronom Spanyol Josep Comas Solá mengamati penggelapan tepi di Titan, sehingga menjadi bukti pertama bahwa satelit tersebut memiliki atmosfer. Pada tahun 1944, Gerard P. Kuiper menggunakan teknik spektroskopi untuk melacak atmosfer metana.

Wahana pertama yang mengunjungi sistem Saturnus adalah Pioneer 11 pada tahun1979. Wahana tersebut memastikan bahwa Titan terlalu dingin untuk kehidupan. Selain itu, Pioneer 11 juga mengabadikan citra Titan dan Saturnus pada akhir hingga pertengahan tahun 1979. Kualitas gambar tersebut kalah dengan kedua wahana Voyager, namun memberikan data sebagai persiapan.

Titan diselidiki oleh Voyager 1 pada tahun 1980 dan 2 pada tahun 1981. Jalur Voyager 1 diubah agar dapat lebih dekat saat melewati Titan. Sayangnya, wahana tersebut tidak memiliki alat yang dapat menembus kabut Titan, suatu hal yang tidak diperkirakan sebelumnya. Beberapa tahun kemudian, pemrosesan gambar yang diabadikan oleh penyaring jingga Voyager 1 secara digital menunjukkan keberadaan kenampakan terang dan gelap yang kini disebut Xanadu dan Shangri-La, namun saat itu keduanya sudah diamati dalam bentuk inframerah oleh Teleskop Angkasa Hubble. Voyager 2 hanya melihat Titan secara sepintas. Tim Voyager 2 dihadapkan oleh dua pilihan: mengarahkan wahana tersebut untuk melihat Titan secara rinci atau mengikuti lintasan lain yang akan mengunjungi Uranus dan Neptunus. Karena sedikitnya kenampakan permukaan yang dapat dilihat oleh Voyager 1, rencana kedua-lah yang dilaksanakan.

Cassini–Huygens

 

   
Citra Titan yang diabadikan oleh Cassini di depan cincin Saturnus Citra Titan yang diabadikan oleh Cassini di belakang Epimetheus dan cincin Saturnus

Wahana Cassini-Huygens mencapai Saturnus pada tanggal 1 Juli 2004, dan sudah mulai memetakan permukaan Titan dengan menggunakan radar. Wahana yang merupakan proyek gabungan European Space Agency (ESA) dan NASA ini sangat berhasil dalam menjalankan misinya. Wahana Cassini terbang melintasi Titan pada 26 Oktober 2004 dan mengabadikan citra permukaan Titan dengan resolusi terbesar sejauh ini dari jarak 1.200 km yang menunjukkan potongan terang dan gelap yang tak dapat dilihat oleh mata telanjang di Bumi. Huygens mendarat di Titan pada tanggal 14 Januari 2005 dan menemukan banyak kenampakan permukaan yang kemungkinan terbentuk oleh cairan yang mengalir pada masa lampau. Pada 22 Juli 2006, Cassini melakukan terbang lintas dekat pertamanya dari jarak 950 km dari Titan; terbang lintas terdekat dilakukan dari jarak 880 km pada tanggal 21 Juni 2010. Cairan dalam bentuk danau dan lautan juga ditemukan oleh Cassini di wilayah kutub utara. Selain itu, berkat misi Cassini-Huygens, Titan adalah satelit kedua di Tata Surya dan objek paling jauh dari Bumi yang memiliki wahana pendarat di permukaannya.

Tempat pendaratan Huygens

 
Citra in situ Huygens dari permukaan Titan—satu-satunya gambar dari permukaan objek yang lebih jauh dari Mars. Gambar yang sama dengan pemrosesan yang berbeda.

Pada 14 Januari 2005, wahana Huygens mendarat di permukaan Titan, di ujung timur wilayah cerah yang disebut Adiri. Wahana tersebut mengambil gambar perbukitan yang pucat dengan “sungai” gelap mengalir ke dataran gelap. Menurut pemahaman saat ini, perbukitan (yang juga disebut dataran tinggi) sebagian besar terdiri dari es air. Senyawa organik gelap yang dihasilkan di atmosfer atas oleh radiasi ultraviolet Matahari mungkin menghujani atmosfer Titan. Senyawa tersebut mengalir ke bawah bukit dengan hujan metana dan mengendap dalam jangka waktu geologis.

Setelah mendarat, Huygens mengambil citra dataran gelap yang dilapisi bebatuan kecil, yang terdiri dari es air. Kedua batu di tengah gambar di sebelah kanan tampak lebih kecil dari yang sebenarnya: yang sebelah kiri panjangnya 15 cm, dan yang sebelah kanan panjangnya 4 cm, sementara Huygens mengabadikannya dari jarak 85 cm. Terdapat bukti terjadinya erosi di dasar bebatuan, yang mungkin disebabkan oleh aktivitas fluvial. Permukaan tampak lebih gelap dari yang diperkirakan sebelumnya, dan terdiri dari campuran es air dan hidrokarbon. Berdasarkan asumsi, “tanah” yang terlihat di gambar di sebelah kanan merupakan presipitasi dari kabut hidrokarbon di atas.

Pada Maret 2007, NASA, ESA, dan COSPAR memutuskan untuk menamai tempat pendaratan Huygens “Stasiun Memorial Hubert Curien” untuk mengenang mantan ketua ESA.

Misi masa depan

Balon yang diusulkan dalam Titan Saturn System Mission.

Titan Saturn System Mission (TSSM) adalah usulan gabungan NASA/ESA yang akan menjelajahi satelit-satelit Saturn. Dalam misi tersebut, balon udara akan terbang di atmosfer Titan selama enam bulan. Proyek ini bersaing dengan Europa Jupiter System Mission (EJSM) untuk memperoleh dana. Pada Februari 2009, diumumkan bahwa ESA/NASA akan memprioritaskan EJSM, meskipun TSSM masih dipertimbangkan. Semenjak NASA keluar dari TSSM pada tahun 2012, rencana ini ditunda.

Ada pula usulan Titan Mare Explorer (TiME), yang merupakan pendarat berbiaya rendah yang akan mendarat di sebuah danau di dekat kutub utara Titan dan mengapung di permukaan selama tiga hingga enam bulan. Misi tersebut dapat diluncurkan paling awal pada tahun 2016 dan tiba pada tahun 2023. Namun, pada tahun 2012, NASA memilih untuk mendanai misi wahana InSight ke Mars, sehingga masa depan misi TiME masih belum jelas.

Proyek pendarat danau lainnya diusulkan pada akhir tahun 2012 di Eropa. Wahana tersebut dijuluki Titan Lake In-situ Sampling Propelled Explorer (TALISE). Perbedaan utamanya dengan wahana TiME adalah sistem pendorongnya.

Misi lain yang diusulkan adalah Aerial Vehicle for In-situ and Airborne Titan Reconnaissance (AVIATR), yang merupakan pesawat tak berawak yang akan terbang melalui atmosfer Titan dan mengabadikan citra permukaan Titan dalam definisi tinggi.

Keadaan prebiotik dan pencarian kehidupan

Titan diduga merupakan lingkungan prebiotik yang kaya akan bahan kimia organik yang kompleks dengan kemungkinan keberadaan samudra cair di bawah permukaan yang menjadi lingkungan biotik.

Meskipun misi Cassini-Huygens tidak dilengkapi dengan alat untuk menemukan biosignature atau senyawa organik lainnya, wahana ini menemukan lingkungan yang mirip (dalam beberapa hal) dengan Bumi purba. Ilmuwan menduga bahwa atmosfer Bumi purba komposisinya mirip dengan atmosfer Titan saat ini, walaupun atmosfer Titan tidak memiliki uap air.

Pembentukan molekul kompleks

Percobaan Miller–Urey menunjukkan bahwa dengan atmosfer yang mirip dengan Bumi dan dengan penambahan radiasi ultraviolet, molekul kompleks dan substansi polimer seperti tholin dapat dihasilkan. Reakso dimulai dari disosiasi nitrogen dan metana, yang membentuk hidrogen sianida dan asetilen. Reaksi lebih lanjut telah dipelajari.

Pada Oktober 2010, Sarah Horst dari Universitas Arizona membuat simulasi radiasi ultraviolet dan partikel bermuatan yang menghujam atmosfer atas Titan dengan menghujamkan energi ke kumpulan gas yang komposisinya mirip dengan atmosfer Titan. Dalam simulasi tersebut, ia berhasil menemukan lima basa nukleotida—bahan penyusun DNA dan RNA—dan asam amino—bahan penyusun protein. Menurutnya, ini adalah pertama kalinya basa nukleotida dan asam amino ditemukan dalam keadaan tersebut tanpa keberadaan air.

Pada 3 April 2013, NASA melamporkan bahwa bahan kimia organik mungkin muncul di Titan berdasarkan penelitian yang menyimulasikan atmosfer Titan.

Kemungkinan keberadaan habitat di bawah permukaan

Simulasi laboratorium menunjukkan bahwa terdapat cukup materi organik untuk memulai evolusi kimia yang mirip dengan yang terjadi di Bumi. Meskipun analogi tersebut mengasumsikan keberadaan air untuk periode yang lebih panjang, menurut beberapa teori air dari tubrukan dapat tersimpan di bawah lapisan isolasi yang beku. Selain itu, samudra amonia cair mungkin ada di bawah permukaan; sementara itu, berdasarkan model lain, terdapat larutan amonia-air di kedalaman 200 km di bawah kerak es air yang dapat mendukung kehidupan, walaupun menurut standar kehidupan bumi merupakan lingkungan yang ekstrem. Perpindahan panas antara bagian dalam dan lapisan atas berperan penting dalam mendukung kehidupan di samudra bawah permukaan. Penemuan kehidupan mikrobial sendiri bergantung pada efek biogeniknya (contohnya, penyelidikan metana dan nitrogen di atmosfer sebagai hasil dari peristiwa biologis).

Metana dan kehidupan di permukaan

Diperkirakan terdapat kehidupan di danau metana cair di Titan, sama seperti organisme di Bumi yang hidup di air. Makhluk tersebut akan menghirup H2 daripada O2, memetabolisasinya dengan asetilen daripada glukosa, dan mengeluarkan metana daripada karbon dioksida.

Walaupun semua kehidupan di Bumi (termasuk metanogen) menggunakan air sebagai pelarut, diperkirakan kehidupan di Titan menggunakan hidrokarbon cair, seperti metana atau etana. Air merupakan pelarut yang lebih kuat daripada metana. Namun, air secara kimiawi juga lebih reaktif, dan dapat memecah molekul organik besar dalam proses hidrolisis. Akibatnya, kehidupan yang menggunakan hidrokarbon sebagai pelarut tidak menghadapi risiko kehancuran biomolekul.

Astrobiolog Christopher McKay pada tahun 2005 menyatakan bahwa jika kehidupan metanogen ada di permukaan Titan, kehidupan tersebut seharusnya memengaruhi rasio troposfer Titan: kandungan hidrogen dan asetilen seharusnya lebih rendah dari yang diduga.

Pada tahun 2010, Darrell Strobel dari Universitas Johns Hopkins menemukan lebih banyak hidrogen molekuler di atmosfer atas Titan daripada atmosfer bawahnya, dan mengusulkan terjadinya aliran ke bawah dengan laju 1025 molekul per detik dan hilangnya hidrogen di dekat permukaan Titan; seperti yang dinyatakan oleh Strobel, penemuannya sejalan dengan efek yang diperkirakan Chris McKay bila kehidupan metanogen memang ada. Pada tahun yang sama, penelitian lain menunjukkan kadar asetilen yang rendah di permukaan Titan, yang menurut Chris McKay sesuai dengan hipotesis bahwa organisme di Titan mengonsumsi hidrokarbon. Namun, McKay memperingatkan bahwa penjelasan lain masih lebih mungkin, seperti proses fisik atau kimia yang belum dikenali (seperti katalis permukaan yang menerima hidrokarbon atau hidrogen), atau kekurangan dalam model aliran material saat ini. Data komposisi dan model aliran perlu dibuktikan lebih lanjut, dan, sesuai dengan prinsip pisau Occam, penjelasan fisik atau kimia lebih dipilih secara a priori daripada penjelasan biologis karena penjelasan katalis kimiawi lebih sederhana daripada kekompleksan kehidupan biologis. Walaupun begitu, McKay menekankan bahwa penemuan salah satu dari keduanya, termasuk katalis yang efektif pada suhu 95 K (−180 °C), merupakan penemuan yang penting.

Seperti yang diungkapkan oleh NASA dalam artikelnya tentang penemuan pada Juni 2010, “hingga kini, kehidupan berbasis metana masih bersifat hipotetis. Ilmuwan masih belum menemukan bentuk kehidupan seperti ini.” NASA juga mengatakan bahwa “beberapa ilmuwan yakin bahwa [penemuan] tersebut memperkuat argumen yang mendukung keberadaan kehidupan yang primitif dan eksotik atau pendahulu kehidupan di permukaan Titan.”

Tantangan

Walaupun mungkin secara biologis, terdapat tantangan bagi kehidupan di Titan. Di jarak yang jauh dari Matahari, Titan merupakan satelit yang dingin, dan atmosfernya tidak memiliki CO2. Di permukaan Titan, air hanya ada dalam bentuk padat. Karena kesulitan tersebut, ilmuwan seperti Jonathan Lunine menganggap Titan kurang mungkin memiliki kehidupan dan hanya sekadar percobaan untuk menguji teori tentang keadaan Bumi sebelum munculnya kehidupan. Meskipun kehidupan mungkin tidak ada, keadaan prebiotik Titan dan bahan kimia organik yang terkait masih tetap menarik karena dapat digunakan untuk memahami sejarah awal biosfer Bumi. Penelitian yang menggunakan Titan sebagai percobaan prebiotik tidak hanya dilakukan melalui pengamatan di pesawat angkasa, tetapi juga melalui percobaan laboratorium dan permodelan kimia dan fotokimia di Bumi.

Hipotesis panspermia

Tubrukan asteroid besar dan komet dapat menyebabkan terlemparnya pecahan yang mengandung mikroba dari planet Bumi, sehingga memungkinkan terjadinya transpermia. Berdasarkan perhitungan, beberapa pecahan tersebut dapat mencapai berbagai objek di Tata Surya, termasuk Titan. Di sisi lain, Jonathan Lunine menyatakan bahwa kehidupan di danau hidrokarbon kriogenik Titan seharusnya secara kimiawi sangat berbeda dengan kehidupan Bumi sehingga keduanya tidak mungkin terkait.

Keadaan masa depan

Ke depannya, Titan mungkin lebih dapat dihuni. Lima miliar tahun dari sekarang, ketika Matahari menjadi raksasa merah, suhu permukaan akan meningkat hingga dapat mendukung keberadaan air di permukaan. Selain itu, karena ultraviolet Matahari berkurang, kabut di atmosfer atas Titan akan hilang, sehingga mengurangi efek anti rumah kaca yang berlangsung di permukaan dan meningkatkan efek rumah kaca yang diakibatkan oleh metana di atmosfer. Dua hal tersebut dapat membuat Titan lebih dapat dihuni selama beberapa ratus juta tahun, waktu yang cukup untuk evolusi kehidupan sederhana, walaupun keberadaan amonia di Titan dapat memperlambat reaksi kimia.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Titan_(satelit)


Kategori

Bahasa

English German Dutch

Japanese Arabic