Pelantikan Soeharto Sebagai Persiden RI Ke-2

  • 0

Pelantikan Soeharto Sebagai Persiden RI Ke-2

Category : Artikel

Hari ini berpuluh tahun yang lalu, pada tanggal 26 Maret 1968, HM. Soeharto secara resmi menggantikan Ir. Soekarno, sebagai Presiden Republik Indonesia. Soeharto kemudian menjadi Presiden RI yang ke-2, dan menjabat sekitar 32 tahun lamanya.

Adalah Supersemar atau Surat Perintah Sebelas Maret, yang disebut-sebut berperan penting dalam naiknya HM. Soeharto ke kursi Presiden RI. Supersemar yang memberi kuasa pada Soeharto untuk mengambil langkah yang diperlukan dalam rangka mengendalikan situasi saat itu telah membuat posisi HM. Soeharto semakin kuat.

Setelah menerima Supersemar, Letjen Suharto selanjutnya melakukan tindakan-tindakan awal antara lain sebagai berikut :
12 Maret 1966, PKI dibubarkan
18 Maret 1966, mengamankan menteri-menteri yang terlibat G 30 S / PKI
Menginstruksikan kepada perguruan-perguruan tinggi yang ditutup untuk memulai kuliah lagi seperti biasa rakyat menyambut baik adanya Supersemar kepada Letjen Suharto, bahkan KAMI dalam nota politiknya yang disampaikan di depan sidang DPR-GR meminta kepada MPRS untuk memberikan tugas kepada Letjen Suharto seperti yang tercantum dalam Supersemar. Kedudukan Letjen Suharto setelah mendapat Supersemar semakin kuat dan sebaliknya kedudukan Presiden Sukarno semakin menurun.

Pada tanggal 20 Juni s.d 5 Juli 1966 diadakan Sidang Umum MPRS ke IV, sidang ini merupakan langkah konstitusional untuk mengoreksi pemerintahan Orde Lama. Sidang Umum MPRS IV menghasilkan beberapa ketetapan MPRS antara lain :
Tap MPRS No. IX / MPRS / 1966 tentang Supersemar
Tap MPRS No. XI / MPRS / 1966 tentang Pemilu
Tap MPRS No. XIII / MPRS / 1966 tentang Kabinet Ampera
Tap MPRS No. XXV / MPRS / 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia , Pernyataan Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia.

Sebelumnya pada sidang umum MPRS IV ini Presiden Sukarno menyampaikan Pidato penjelasan tentang Peristiwa G 30 S / PKI pada 22 Juni 1966 yang diberi judul “ Nawaksara “ yang berisi sembilan pokok penjelasan tentang peristiwa G 30 S / PKI, tetapi pidato ini ditolak oleh peserta sidang, karena tidak memuat secara jelas kebijakan Presiden/ Mandataris MPRS mengenai peristiwa G 30 S / PKI, oleh karenanya maka MPRS minta kepada Presiden untuk melengkapi “ Nawaksara “. Pada tanggal 10 Januari 1967 Presiden Sukarno menyampikan Pelengkap Nawaksara, tetapi kembali Pelengkap Nawaksara juga tidak diterima oleh MPRS. Penolakan yang kedua atas penjelasan presiden ini menunjukkan bahwa Mandataris MPRS sudah tidak mendapat kepercayaan dari MPRS.
Atas prakarsa Presiden Sukarno, pada tanggal 22 Pebruari 1967 bertempat di Istana Negara berlangsung penyerahan kekuasaan pemerintahan dari Presiden Sukarno kepada penemban Tap MPRS No. IX / MPRS / 1966, Letjen Suharto.

Penyerahan Kekuasaan pemerintahan ini merupakan langkah penting dalam usaha mengatasi situasi konflik yang sedang memuncak. Penyerahan kekuasaan pemerinthan ini secara konstitusional didasrkan pada Tap MPRS No. XV / MPRS / 1966 yang menyatakan “ bahwa Apabila Presiden berhalangan, maka pemegang surat Perintah 11 Maret memegang jabatan Presiden “
Letjen Suharto pada penjelasannya tanggal 4 Maret 1967 tentang penyerahan kekuasaan pemerintahan tersebut, bahwa penyerahan kekuasaan tersebut hanya merupakan salah satu usaha dalam rangka penyelesaian konstitusional untuk mengatasi situasi konflik demi keselamatan rakyat, Negara dan bangsa, dan pemerintah berpendirian bahwa tetap perlu penyelesaian konstitusional lewat sidang MPRS.

Dengan memperhatikan perkembangan hal-hal tersebut di atas maka pada tanggal 7 Maret s.d 12 Maret 1967, MPRS mengadakan Sidang Istimewa. Sidang Istimewa MPRS ini antara lain menghasilkan Tap. MPRS No. XXXIII / MPRS / 1967 tentang Mencabut kekuasaan pemerintahan Negara dari Presiden Sukarno dan mengangkat Pengemban Tap No. IX / MPRS / 1966 Suharto sebagai Pejabat Presiden. Selanjutnya pada 27 Maret 1968 Suharto dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia.

Soeharto sendiri sudah menjabat sebagai Presiden sementara sejak 12 Maret 1967. Saat itu MPRS yang menolak pidato pertanggungjawaban presiden Soekarno berjudul  Nawaksara, kemudian menunjuk Soeharto sebagai pejabat/mandataris. MPRS lalu mencabut kekuasaan pemerintahan negara dari Presiden Soekarno melalu Tap MPRS No.XXXIII/MPRS/1967.

Satu tahun kemudian, pada 26 Maret 1968, HM. Soeharto secara resmi diambil sumpahnya sebagai Presiden tanpa adanya jabatan Wakil Presiden. Saat itulah dimulainya tonggak sejarah berdirinya Orde Baru, yang kemudian menandai berakhirnya masa Orde Lama.

Kepemimpinan Jenderal Soeharto dan Orde Baru sendiri bertahan hingga 32 tahun lamanya, dan kemudian berakhir pada Mei 1998. Sebagai Presiden dengan masa jabatan terlama di Indonesia, the Smiling General ini tentunya paling banyak meninggalkan kesan yang mendalam bagi rakyatnya,

Meski di awal era Reformasi 1998 banyak pihak yang menyudutkan Soeharto, namun hingga kini mayoritas rakyat Indonesia terutama di pedesaan masih merasa merindukan gaya kepemimpinannya yang tegas. Karakteristik militer yang ada dalam diri Jenderal Soeahrto telah memberi rasa aman dan nyaman bagi mayoritas rakyat Indonesia.

Hingga kini masih banyak dari rakyat Indonedia yang menyebut era Orde Baru di bawah kepemimpinan Jenderal Soeharto adalah era terbaik Indonesia. Hal itu ditandai dengan maraknya slogan, Piye isih penak zamanku toh le? yang marak bertebaran di berbagai tempat seperti di dinding, bus kota, hinggga truk angkutan dan gandengan.

Meski cukup banyak para aktivis, tokoh dan politisi yang merasa hak politiknya terpasung, namun bagi sebagian besar masyarakat terutama di pedesaan, Jenderal Soeharto benar-benar dianggap telah mampu membuat negeri ini aman, damai dan sejahtera.
Menurut para generasi tua, era Soeharto adalah masanya pembangunan, era Orde Baru adalah zaman murahnya sandang dan pangan.

Sumber : http://www.sorak.in/2016/03/27-maret-1968-soeharto-resmi-dilantik.html, http://koranmakassaronline.com/v2/26-maret-1968-soeharto-menggantikan-sukarno-sebagai-presiden-indonesia/


Leave a Reply

Kategori

Bahasa

English
German
Dutch

Japanese
Arabic