Hari Filateli Indonesia

  • 0

Hari Filateli Indonesia

Category : Artikel

Tanggal 29 Maret diperingati sebagai Hari Filateli Indonesia. Peringatan Hari Filateli Indonesia berawal dari para kolektor perangko pada tanggal 29 Maret 1922 berkumpul di Batavia yang sekarang di sebut Jakarta mendirikan klub filateli dengan nama “Postzegelverzamelaars Club Batavia”. Perkumpulan ini menjadi wadah gerakan terorganisasi secara nasional di wujudkan dalam pembentukan “Nederlandsch Indische Vereeniging van Postzegel Verzamelaars” tanggal 15 Agustus 1940 sebagai lanjutan “Postzegelverzamelaar Club Batavia” dan berkedudukan di Jakarta.

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia nama perkumpulan diubah menjadi “Algemene Vereeniging Voor Philatelisten In Indonesia” pada tahun 1953 menjadi Perkumpulan Umum Philateli Indonesia. Tahun 1965 menjadi Perkumpulan Philatelis Indonesia (PPI) dan akhirnya dalam tahun 1985 menjadi Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI).

Kata “filateli” berasal dari bahasa Inggris philately yang berasal dari bahasa Perancis “philatélie”, yang diciptakan oleh filatelis Georges Herpin pada tahun 1864. Ia menciptakan istilah baru tersebut untuk menggantikan kata timbromanie yang sempat digunakan selama beberapa tahun, namun kurang disukai. Ia menggabungkan akar kata bahasa Yunani φιλ(ο)- phil(o)-, berarti “suka”, dan ἀτέλεια ateleia, berarti “tidak membayar kewajiban dan pajak” membentuk kata “filateli”. Pada zaman itu, penggunaan perangko berarti penerima surat tidak dibebani biaya lagi, karena sudah dibayarkan oleh pengirim; sebelumnya, penerima suratlah yang harus membayar biaya pengiriman surat.

Filateli adalah aktivitas atau hobi mengumpulkan prangko dan benda-benda pos lainnya seperti Sampul Hari Pertama. Pengumpulan benda-benda pos itu kebanyakan mengutamakan edisi lama, meski edisi baru juga ikut dikumpulkan. Semakin tua usia benda pos tersebut, maka harganya semakin tinggi. Di Indonesia, kegiatan Filateli mendapat dukungan dari PT Pos Indonesia. Di setiap kantor pos besar terdapat loket atau ruang filateli.

Filatelis adalah Pengumpul Benda Filateli. Kata ini sebenarnya salah kaprah, karena yang disebut Filatelis adalah seorang spesialis, yang sangat mendalami satu bidang di dunia filateli saja. Misalnya hanya mendalami koleksi filateli bertema Palang Merah saja yang terbit di Indonesia saja. Jadi sebenarnya para pengumpul prangko cukup menyebut dirinya sebagai Stamps Collector atau Pengumpul Prangko. Tapi karena terlalu panjang sering menyingkat dan menyebut dirinya Filatelis.

Filateli selalu identik dengan kegiatan pengumpulan prangko untuk koleksi. Padahal filateli itu tak cuma kegiatan atau hobi mengumpulkan prangko semata tetapi juga meliputi seluruh benda-benda pos selain prangko, seperti kartu pos, souvenir sheet (carik kenangan), Sampul Hari Pertama/SHP (first day cover), International Reply Coupon (IRC), sampul surat, sampul peringatan, dan materai. Walau materai tadinya tak termasuk sebagai benda filateli meskipun dijual atau diterbitkan oleh dinas pos, namun organisasi filatelis sedunia dan se-Asia sudah membuka topik Revenue Stamps, sehingga berbagai bentuk penerimaan negara, seperti meterai, cukai, retribusi, dan sebagainya, bisa dimasukkan sebagai bahan koleksi. Bagi orang-orang yang masih awam di dunia filateli maupun yang pemula tentu masih bingung dengan nama-nama benda pos selain prangko yang disebutkan tadi. Tentu tak banyak yang paham tentang souvenir sheet, mini sheet, full sheet, sampul hari pertama, dan sampul peringatan. Ketiga benda pos ini merupakan benda-benda filateli yang paling suka dikoleksi oleh para filatelis (kolektor prangko) selain prangko. Souvenir sheet atau carik kenangan merupakan sehelai atau lembar kertas yang memuat prangko di dalamnya. Ukuran lembar kertas ini lebih besar dari prangkonya, tepinya tidak bergerigi. Jadi, pada hakikatnya souvenir sheet itu adalah prangko juga, dengan tambahan lembaran kertas di sekelilingnya. Seperti halnya prangko, souvenir sheet juga dapat dipergunakan untuk pemrangkoan, namun lebih ditujukan untuk koleksi filatelis.

Souvenir sheet sering pula dikenal sebagai mini sheet atau miniature sheet. Namun, tak semua sependapat kalau souvenir sheet itu disamakan dengan mini sheet. Di lapak-lapak penjualan benda-benda filateli, souvenir sheet dan mini sheet selalu ditempatkan dalam kategori masing-masing, kategori souvenir sheet atau mini sheet. Mini sheet dapat disebut sebagai kelompok kecil dari seri perangko yang masih menempel pada lembar di mana mereka dicetak. Di samping mini sheet terdapat pula full sheet. Full sheet ini merupakan lembar kertas yang memuat semua seri perangko yang diterbitkan dalam satu waktu. Jadi, full sheet dapat disebut sebagai edisi lengkap dari mini sheet yang cuma memuat beberapa perangko dari satu seri saja.

Contoh Mini Sheet (Sumber: Pos Indonesia)

Contoh Full Sheet (Sumber: Pos Indonesia)

Selain souvenir sheet, mini sheet, dan full sheet, benda pos yang paling banyak diburu kolektor perangko adalah Sampul Hari Pertama (SHP) atau disebut juga First Day Cover (FDC). SHP merupakan sampul yang diterbitkan secara resmi oleh pihak pos bertepatan dengan hari pertama penerbitan suatu (seri) prangko. Dalam sampul yang memuat seri prangko tersebut terdapat pula suatu cap khusus hari pertama yang dikeluarkan oleh pos. Apabila suatu sampul tak memenuhi persyaratan untuk sebuah SHP maka sampul tersebut tidak bisa disebut sebagai SHP, tetapi dapat disebut sebagai Sampul Khusus (SK). Contoh SK ini antara lain Sampul Peringatan (SP).

Contoh Sampul Hari Pertama (Sumber: Pos Indonesia)

Sampul Peringatan adalah sampul yang khusus dibuat untuk menandai atau memperingati suatu peristiwa yang dianggap penting. Dalam sampul peringatan terdapat pula suatu cap khusus peringatan dari peristiwa tersebut, namun bukan cap hari pertama penerbitan prangko seperti halnya SHP. Sampul peringatan tak hanya dibuat oleh pos, tapi juga bisa dibuat oleh siapa saja, seperti perorangan maupun perkumpulan. Sampul peringatan disertai juga dengan prangko namun bukan prangko baru untuk memperingati peristiwa tersebut, tapi prangko lama atau prangko biasa yang dicap dengan cap khusus tadi. Contoh Sampul Peringatan antara lain Sampul Peringatan 50 tahun Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) dan Sampul Peringatan Pameran Filateli Nasional Betawi 2012. Jadi, Sampul Peringatan itu dapat pula berupa Sampul Pameran.

Contoh Sampul Peringatan (Sumber: Pos Indonesia)

Selain souvenir sheet, mini sheet maupun full sheet, SHP, dan SP tadi, benda pos yang sering dikoleksi adalah kartupos berterakan prangko, carnet atau karnet, maximum card,  booklet prangko atau buku prangko, berbagai macam kemasan prangko dan merchandise, serta tak ketinggalan pula IRC (International Reply Coupon). Di antara benda-benda pos tersebut yang masih terdengar asing di telinga non filatelis adalah maximum card, booklet prangko, carnet (karnet), dan IRC.  Maximum card adalah kartupos bergambar yang memuat lukisan atau gambar yang bertema sesuai dengan seri prangko yang baru terbit. Maximum card ini juga ditempeli prangko dan diberi cap khusus.

Contoh Maximum Card (Sumber: Pos Indonesia)

Booklet prangko adalah semacam buku kecil yang lembaran dalamnya memuat beberapa prangko. Dalam booklet ini terdapat pula informasi yang berisi tentang spesifikasi prangko, tujuan diterbitkannya prangko, dan beberapa informasi yang berkaitan dengan prangko yang diterbitkan tersebut. Contoh booklet prangko yang pernah diterbitkan antara lain Booklet Prangko 100 tahun Bung Karno. Dalam booklet ini informasi tentang Soekarno pun disertakan seperti biografi singkat hingga perannya dalam sejarah Indonesia, termasuk beberapa foto Sang Proklamator.

Jenis benda filateli lain yang tak banyak diketahui oleh orang awam adalah karnet atau carnet. Bagi seorang filatelis benda pos ini sudah tak asing lagi. Apa itu karnet? Karnet merupakan kertas tebal, berbentuk lipatan yang pada bagian dalamnya ditempeli prangko terbitan baru yang telah dibubuhi cap Hari Terbit Pertama sedangkan bagian luarnya memuat tulisan atau gambar yang sesuai dengan prangko tersebut. Menurut info yang saya dapat dari Wikipedia, selama ini hanya beberapa kali karnet diterbitkan yaitu karnet yang diterbitkan dalam rangka Hari Bahari, Expo ’86 (Pameran Dunia) Vancouver (Kanada), dan Pameran Internasional Filateli Asia ke 6 INDOPEX ’93 di Surabaya.

Contoh halaman karnet yang memperingati 400 tahun pos Polandia.(Sumber: stampspoland.nl

Terakhir, benda pos yang tak begitu dikenal oleh orang banyak adalah IRC. IRC atau Kupon Balasan Internasional diterbitkan oleh UPU (Union Postale Universalle) yang berkedudukan di Swiss, Geneva. IRC berbentuk kupon biasa, dari kertas yang berukuran sekitar 100mm X 70 mm. Si penerima IRC dapat menukarkan dengan prangko yang berlaku di negaranya dan dapat menggunakannya untuk mengirimkan surat jawaban kepada si pengirim surat.

Benda-benda pos memang menarik untuk dikoleksi, selain bernilai seni harganya pun bisa melangit, terutama untuk benda-benda pos yang langka. Apalagi kalau terdapat tanda tangan orang ternama dalam benda pos seperti Sampul Hari Pertama dan Sampul Peringatan, tentu harganya makin melangit pula. Jadi, kegiatan pengumpulan benda pos seperti prangko tak hanya sekadar hobi tapi juga bernilai investasi yang tinggi.

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Filateli, http://koranmakassaronline.com/v2/29-maret-1922-hari-filateli-indonesia-mulai-di-peringati/, http://www.kompasiana.com/abdinst/filateli-itu-tak-cuma-prangko_550eaf78813311bb2dbc639d


Leave a Reply

Kategori

Bahasa

English German Dutch

Japanese Arabic