Hari Nelayan Indonesia

  • 0

Hari Nelayan Indonesia

Category : Artikel

Sudahkah anda tahu bahwa setiap tanggal 6 April diperingati sebagai Hari Nelayan Nasional? Mungkin kita sendiri tidak menyadari bahwa setiap tanggal 6 April diperingati sebagai Hari Nelayan Nasional. Menurut situs Wikipedia, pada tanggal 6 April setiap tahunnya konon para nelayan di Pelabuhan Ratu Sukabumi mengadakan berbagai aktivitas yang meriah seperti pesta rakyat, ritual adat, lomba-lomba dan sebagainya. Tidak salah jika kita memperingati hari Nelayan Nasional karena sebgian besar penduduk Indonesia berprofesi sebagai nelayan. Bukan pesta yang menghambur-hamburkan uang semata tetapi sebagai momentum untuk mengangkat harkat dan martabat mereka sebagai nelayan “sang pahlawan protein bangsa”.Peringatan hari nelayan juga bisa mendatangkan sumber pendapatan tambahan bagi mereka melalui kegiatan yang menarik dan atraktif yang mampu mengundang wisatawan. Hari Nelayan Nasional seyogyanya membangkitkan awareness kita terhadap kesejahteraan mereka. Menurut data BPS (2000), nelayan dan masyarakat pesisir termasuk dalam kelompok masyarakat termiskin di tanah air.

Peringatan Hari Nelayan merupakan penghargaan tertinggi dari pemerintah untuk nelayan. Sebanyak 60 persen, penduduk Indonesia berada di pesisir. Kepala Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjelaskan essensi dari peringatan Hari Nelayan adalah bagian dari kearifan lokal nelayan Indonesia kepada alam.

Indonesia merupakan negeri kepulauan yang besar. Gugusan kepulauan Indonesia terbentang sebanyak 17.508 pulau. Sementara posisi Indonesia tepat berada pada letak yang strategis yaitu diapit oleh dua benua, yaitu Asia dan Australia dan dua samudera, Hindia dan Pasifik. Kondisi yang demikian menjadikan wilayah Indonesia didominasi oleh wilayah perairan dan merupakan negara dengan garis pantai terpanjang ke dua di dunia setelah Kanada, dengan panjang pantai 95.191 km. Oleh karena itu, selain mayoritas rakyat Indonesia bekerja sebagai petani, rakyat Indonesia juga bekerja pada sektor nelayan, khususnya masyarakat yang hidup di wilayah pesisir.

Sebagai salah satu sektor produktif dan merupakan salah satu sumber kemakmuran bangsa, nelayan sudah sepatutnya diberikan jaminan kesejahteraan dan dilepaskan dari kemiskinan akut yang selama ini membelenggu. Semangat untuk mengangkat derajat nelayan dahulu sempat mengemuka, beriring dengan semangat kemandirian dan kedaulatan negara, sehingga kemudian munculah penetapan bahwa 06 April adalah harinya nelayan Se-Indonesia.

Hingar bingar kedaulatan nelayan atas laut seperti hilang tertelan zaman. Kondisi nelayan Indonesia saat ini masih terus dirundung permasalahan, khususnya permasalahan kesejahteraan. Nelayan seharusnya menjadi bagian penting dalam pembangunan bangsa dan negara yang berdaulat untuk terus menopang kehidupan seluruh rakyat dengan produksi hasil tangkapannya. Para nelayan tradisional menangkap ikandengan mengunakan cara yang ramah lingkungan dan menjadikan laut sebagi rumah mereka. Nelayan telah menganggap laut sebagai peradaban yang memberikan sumber kehidupan sejak nenek moyang mereka hidup di daerah pesisir. Sehingga Nelayan akan selalu menjaga ekosistem yang berkelanjutan di laut, karena selain laut menjadi mata pencarian Nelayan, laut juga telah membentuk kebudayaan masyarakat Nelayan di daerah pesisir Indonesia.

Namun saat ini kenyataannya, Nelayan justru semakin terjerumus pada jurang kemiskinan. Kemiskinan yang terus melanda sektor nelayan ini dapat tercermin dari data yang disuguhkan pemerintah.  Dari jumlah rakyat miskin di Indonesia berjumlah 31,02 juta jiwa, sebanyak 7,87 juta jiwa adalah Nelayan. Dan ironinya setiap tahun nelayan semakin berkurang karena disebabkan hilangnya hak atas akses laut dan terbitnya undang-undang yang menghambat nelayan untuk melaut.Selain itu, pendapatan rata-rata nelayan yang hanya berkisar Rp.30.000,-/hari membuat nelayan tak berdaya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Kementerian Kelautan dan Perikanan merilis bahwa setiap tahunnya Indonesia kehilangan 31.000 nelayan atau sekitar 116 nelayan setiap harinya.

Kini kedaulatan dan keperkasaan Nelayan yang menjaga kelestarian setiap laut di Indonesia, menjadi cerita belaka saja bahkan menjadi mitologi lagu “Nenek moyangku seorang Pelaut”. Kenyataannya Nelayan di Indonesia kini menjadi sektor golongan masyarakat yang miskin dan sangat jauh dari ukuran kesejahteraan untuk menguasai laut. Oleh karena itu, dalam momentum Hari Nelayan Nasional 06 April 2015, Mari kita berikan kedaulatan sejati bagi Nelayan, Tolak kebijakan yang telah diterbitkan Menteri Kelautan dan Perikanan yang anti kesejahteran Nelayan, serta Berikan hak Nelayan atas akses laut.

Melihat Indonesia merupakan negara dengan kepulauan terbesar di dunia, tidak dipungkiri bahwa Indonesia juga begitu kaya akan potensi lautnya. Jumlah nelayan di Indonesia sangat banyak dan menjadi mata pencaharian yang sudah tidak asing lagi. Tetapi, kesejahteraan nelayan masih terus dipertanyakan. Hal ini juga tidak memungkiri munculnya praktik-praktik penangkapan ikan ilegal. Mengingat hal ini, Rabu (06/04), Indonesia bersama-sama merayakan Hari Nelayan Nasional ke-56.

Negara Indonesia terdaftar sebagai negara yang memiliki garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada, yaitu mencapai 54.716 km. Hal inilah yang kemudian dicatat sejarah bahwa Indonesia menjadi negara dengan akar maritim yang kuat. Hari Nelayan Nasional ke-56 ini dirayakan dengan harapan untuk menuju kesejahteraan nelayan sebagai poros maritim Indonesia dan menghimbau sekaligus mendukung nelayan Indonesia untuk mempraktikkan penangkapan ikan yang ramah lingkungan.

Garis kemiskinan nelayan belum sepenuhnya terangkat di Indonesia, untuk peringatan Hari Nelayan Nasional ini pula, sebagian masyarakat Indonesia mungkin masih belum sadar mengenai adanya perayaan ini. Tak begitu banyak pemberitaan yang membahas hari nelayan. Mengutip dari seafoodsavers.org, sampai saat ini nelayan di Indonesia masih hidup dibawah garis kemiskinan, minimnya sarana dan prasarana, seperti alat tangkap yang ramah lingkungan, cold storage, hingga kurangnya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang layak menjadi salah satu dari banyaknya permasalahan. Hal yang menjadi perhatian utama adalah mulai berkurangnya stok ikan yang menyebabkan biaya dan jarak melaut menjadi lebih besar dan jauh karena overfishing.

Indonesia juga menyebutkan bahwa praktik perikanan destruktif pun masih cukup sering dilakukan, misalnya dengan menggunakan bahan peledak, racun, atau penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Hal ini tentu saja dapat merusak ekosistem laut dan juga berdampak pada kandungan gizi ikan yang dikonsumsi. Praktik penangkapan dengan prinsip-prinsip berkelanjutan harus dilakukan. WWF-Indonesia juga telah menyusun dan mensosialisasikan serial dokumen BMP (Better Management Practices) Perikanan Berkelanjutan kepada pengusaha dan nelayan di wilayah kerjanya dengan tujuan untuk membantu nelayan dalam menangkap biota laut secara ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Karena itu, kita sebagai konsumen juga harus cerdas dalam memilih makanan laut atau seafood. Dengan memilih dan menanyakan asal-usul seafood sebelum kita konsumsi. Tentu saja, kita harus mengapresiasi para nelayan yang sudah menerapkan praktik penangkapan ikan ramah lingkungan dan berkelanjutan. Banyak yang lupa jasa para nelayan yang notabene menjadi poros maritim di Indonesia, dengan ini kita harus lebih menghargai jasa para nelayan dengan memberikan nilai yang lebih untuk mereka yang sudah menerapkan cara penangkapan ikan yang sehat. Kita harus menyejahterakan kelautan Indonesia guna meningkatkan kesehatan panganan laut sekaligus keindahan biota laut. Selain itu, hal ini juga untuk meningkatkan tingkat perekonomian Indonesia dalam bidang kelautan.

Beberapa kegiatan untuk memperingati hari nelayan nasional antara lain:

Seorang aktivis nelayan yang tergabung dalam Aliansi Hari Nelayan 2017 membawa poster saat melakukan aksi di depan Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Kamis (6/4).

Puluhan aktivis saat melakukan aksi di depan Kantor KKP, Jakarta, Kamis (6/4). Dalam aksinya mereka menuntut kepada Pemerintah untuk memberi kepastian perlindungan hukum kepada nelayan tradisional.

Aktivis melakukan aksi di Kantor KKP, Jakarta (6/4). Mereka juga menuntut pemerintah mengakui identitas nelayan perempuan tanpa domestifikasi, melindungi sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil dari kepentingan investasi.

Aktivis saat melakukan aksi di Kantor KKP, Jakarta, Kamis (6/4). Dalam aksinya yang juga bertepatan dengan Hari Nelayan Nasional tersebut,mereka menuntut pemerintah mengimplementasikan mendat Undang-Undang No.7 Tahun 2016.

Sumber: http://malahayati.ac.id/?p=22385http://www.majalahopini.com/2016/04/07/hari-nelayan-nasional-sejahterakan-perikanan-indonesia/comment-page-1/, http://beritaamenarik.blogspot.co.id/2015/04/sejarah-hari-ini-6-april-2015.html


Leave a Reply

Kategori

Bahasa

English
German
Dutch

Japanese
Arabic