Mendekonstruksi Layanan Perpustakaan Perguruan Tinggi Vokasi Berbasis Makerspace Model Melalui Perspektif Teori Sosial Postmodern Jacques Derrida

Baca 3 menit

Ach. Nizam Rifqi
UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Malang
nizamrifqi@polinema.ac.id

Abstrak 

Artikel ini mengkaji bagaimana perpustakaan perguruan tinggi memposisikan dirinya di tengahtengah perkembangan fenomena makerspace. Perpustakaan dituntut bukan hanya sebagai pusat sumber informasi secara pasif, namun juga untuk dapat menciptakan sebauah ruang publik yang didalamnhya terdapat suatu kolaborasi dan berbagai pengetahuan (knowledge sharing) guna menciptakan sebuah produk karya yang bermanfaat. Berpijak dari konsep teori dekonstruksi Jacques Derrida mengenai dekonstruksi yaitu mencoba lepas dari rutinitas biasa yang dilakukan dengan mencoba hal yang anti mainstream. Akhirnya perpustakaan mencoba menjawab tantangan tersebut dengan menerapakan proses pelayanan menggunakan makerspace model. Studi kasus diambil pada salah satu perpustakaan perguruan tinggi negeri Politeknik Negeri Malang (Polinema), di mana perpustakaan perguruan tinggi dengan basis pendidikan vokasi yang secara kurikulum sistem pembelajaran menitik beratkan kepada 70% praktek dan 30% teori (konsep). Sebagai hasil akhir mahasiswapun dituntut untuk membuat suatu produk. Hal tersebut sejalan dengan konsep layanan menggunakan makerspace model yang coba diterapkan di perpustakaan. Pada implementasi pelayanan menggunakan makerspace model, pihak Perpustakaan Polinema langkah yang ditempuh yaitu unsur-unsur visi, misi dan tujuan perpustakaan yang jelas, anggaran dalam proses implementasi, ruang untuk mewadahi kegiatan makerspace diperpustakaan, ketrampilan pustakawan sebagai motor penggerak dan jejaring sebagai pihak penunjang kegiatan makerspace. Adapun kegiatan makerspace yang telah dilakukan dengan bekerjasama dengan mahasiswa dalam penyusunan tugas akhir tercipta beberapa produk di perpustakaan antara lain Sistem Informasi Perpustakaan Berbasis Web dengan SMS Gateway, Loker Elektronik Terintegrasi dan Integrasi Security Gate dengan Sistem Otomasi. Secara keseluruhan proses implementasi telah berjalan dengan baik, walapun belum secara intens dilakukan. Kedepan pihak perpustakaan akan terus konsisten menerapakan sistem pelayanan makerspace model tersebut dengan meningkatkan konsistensi apa yang menjadi visi, misi dan tujuan melalui penerapan SOP yang jelas, peningkatan anggaran secara berkala, penambahan fasilitas ruang gerak kegiatan makerspace, dan penambahan jejaring perpustakaan untuk mendukungnya.

Kata kunci: Perpustakaan Perguruan Tinggi Vokasi, Postmodern, Makerspace

 

Link Akses: http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/libtech/issue/view/709/showToc

References

  • Burke, J.J. (2014) Makerspace: a practical guide for librarian. Rowman % Littlefield: Lanham.
  • Haryanto, Sindung. (2012). Spektrum Teori Sosial Dari Klasik Hingga Postmodern. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
  • Norris, Christopher. (2017). Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
  • Fourie, Ina, & Meyer, Anika. (2016). What to make of makerspaces tools and DIY only or is there an interconnected information resources space?. Library Hi Tech,  33(4), 519 – 525. https://doi.org/10.1108/LHT-09-2015-0092 Michalak, Russell, & Rysavy, Monica D. T. (2019). Academic libraries in 2018: a comparasion of makerspaces within academic research libraries. Supporting Entrepreneurship and Innovation, 40, 67 – 88. https://doi.org/10.1108/S0732- 067120190000040008
  • Mursyid, Moch. (2016). Makerspace: tren baru layanan di perpustakaan. JIPI: Jurnal Ilmu Perpustakaan & Informasi, 1(1), 29 – From http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/jipi/article/view/97
  • (2017). Makerspace: apa dan bagaimana sikap kita?. In: Esai untuk Dialog Ilmiah Perpustakaan FPPTI DIY, 11 Oktober 2017. UII Yogyakarta. From https://repository.ugm.ac.id/274044/